Arsip Blog

Rabu, 13 April 2011

TULISAN ILMIAH

Tulisan ilmiah
Kegiatan penulisan karya ilmiah di Indonesia meningkat dengan pesat. Majalah umum dan khusus bersifat keilmuan kian banyak. Majalah yang umum misalnya Prisma, yang khusus Medika (kedokteran), Masyarakat Indonesia (ilmu‐ilmu sosial), Ilmu‐ilmu Sastra, Berita Arkeologi, dan lain‐lain. Buku‐buku ilmiah pun kian banyak yang terbit. Semuanya itu menunjukkan kian meningkatnya perhatian terhadap ilmu dan kian meningkatnya kegiatan menulis karya ilmiah. Dalam majalah dan surat kabar pun banyak karangan ilmiah yang dimuat sehingga orang awam pun dapat membacanya (jika mau). Tetapi kalau kita teliti karangan‐karangan dan buku‐buku itu, setidaknya ada dua hal cara menulis yang perlu dicatat, yaitu soal catatan kaki, cara penulisan nama, dan indeks. Dalam kesempatan ini saya ingin mengemukakan catatan tentang ketiga hal tersebut.
Catatan kaki
Catatan kaki atau footnotes sering terdapat dalam karangan‐karangan ilmiah sebagai pertanggungjawaban penulisnya kalau mengutip pendapat orang lain dalam buku atau dalam tulisan yang dimuat dalam majalah atau surat kabar, atau menunjukkan sumber lain, misalnya berdasarkan wawancara, percakapan, dan lain‐lain. Cara menunjukkan catatan itu dahulu biasa dengan memberi tanda pada tempat yang bersangkutan dengan angka Arab atau tanda lain.
Kemudian, keterangan tentang hal yang diberi tanda itu ditaruh pada kaki halaman dengan memberi tanda yang sama. Kalau dengan angka, setiap angka pada catatan kaki merujuk kepada angka pada tempat yang bersangkutan umumnya pada halaman yang sama, walaupun ada juga yang melanjutkan angka‐angka itu untuk setiap bab, bahkan untu seluruh buku. Keterangan catatan kaki biasanya diset dengan korps huruf yang lebih kecil. Orang yang suka menulis catatan kaki berpanjang‐panjang niscaya menimbulkan masalah pada penyusunan layout buku yang bersangkutan.
Pernah ada masanya catatan kaki demikian menjadi mode karena dianggap sebagai ciri bahwa karangan tersebut bersifat ilmiah. Karangan yang tidak memakai catatan kaki dianggap bukan karangan ilmiah. Maka kian banyak catatan kaki yang dibuat, kian dianggap tinggi nilai ilmiah karangan tersebut. Dengan demikian orang menganggapnya sebagi lambang (simbol) keilmiahan, bukan hanya sekadar pembantu bagi pembaca yang ingin mengetahui atau meneliti lebih lanjut.
Tetapi memberikan catatan kaki mempunyai masalah tersendiri. Dengan mesin tik manual, catatan kaki tidak mudah dibuat. Juga kalau karangan itu mau dimuat dalam majalah atau mau dijadikan buku, soal catatan kaki banyak menimbulkan persoalan layout bagi penerbit dan pengarang berhadapan dengan pihak percetakan.
Memberikan catatan pada kaki halaman bukanlah satu‐satunya cara yang biasa dipakai dalam penulisan karya ilmiah. Masih ada cara lain, misalnya yang di Indonesia mula‐mula dikembangkan oleh para sarjana Universitas Indonesia: Keterangan sumber kutipan atau rujukan tidak ditaruh pada kaki halaman dengan memberinya tanda berupa angka atau tanda lainnya, melainkan langsung di antara tanda kurung menyebut nama pengarang dan sumber karangannya. Karena kalau judul buku atau judul karangan, serta majalah atau surat kabar yang memuatnya secara lengkap akan terlalu banyak memakan tempat, maka yang ditulis hanya angka tahun buku itu atau karangan dalam majalah itu terbit dan kadang‐kadang dengan nomor halaman yang menjadi rujukannya, misalnya (Achadiati Ikram, 1997, h. 24) merujuk kepada buku karangan Prof. Dr. Achadiati Ikram yang terbit tahun 1997, h. 24. Judul buku yang dimaksud dicantumkan dalam Daftar Rujukan atau referensi pada akhir karangan, yaitu Achadiati Ikram, Filologi Nusantara, 1997, Jakarta: Pustaka Jaya. Dengan demikian pada akhir tulisan atau buku itu harus dicantumkan Daftar Rujukan (referensi) yang memuat keterangan lengkap tentang nama pengarang, judul karangan, tahun terbit, tempat terbit, dan nama penerbitnya. Karena mungkin saja seorang pengarang dalam satu tahun menulis buku atau karangan lebih dari satu, maka pada angka tahun itu sering diberi tanda a, b, c. Misalnya, angka 1950a, 1950b, 1950c yang maksudnya menunjukkan bahwa pada tahun 1950 orang itu menulis tiga buah karangan yang untuk membedakannya diberi tanda a, b, dan c. Judul buku atau judul karangan, judul majalah atau surat kabar (kalau karangan itu dimuat dalam majalah atau surat kabar), tahun terbit, tempat terbit, dan nama penerbit ketiganya harus dimuat dalam Daftar Rujukan (Referensi).
Cara penulisan catatan rujukan demikian memang lebih praktis karena tidak usah menempatkannya pada kaki halaman karena itu namanya pun tak tepat kalau "catatan kaki". Tetapi dalam karangan yang demikian, pada akhir karangan (atau pada akhir buku) harus dimuatkan Daftar Rujukan yang dimaksud. Artinya, segala sumber yang dirujuk dengan hanya menyebut nama pengarang dan tahun itu harus disebutkan pada Daftar Rujukan pada akhir karangan sehingga para pembaca yang penasaran dapat melacak kepada sumber rujukan. Tanpa adanya Daftar Rujukan pada akhir karangan maka penyebutan namanama di antara tanda kurung itu hanya akan menjadi teka‐teki belaka. Menimbulkan teka‐teki niscaya bukanlah sifat karangan ilmiah.
Pemakaian catatan kaki model kedua ini segera menjadi populer di antara par penulis Indonesia. Bahkan dalam karangan‐karangan yang bukan ilmiah pun, sering kita lihat ada tanda kurung yang disertai dengan nama orang dan tahun, malah nomor yang barangkali merujuk pada halaman sumber, tetapi pada akhir karangan tidak ada Daftar Rujukan atau referensi sama sekali. Maka para pembaca tidak tahu, apa arti nama orang dan tahun yang ditaruh di antara tanda kurung itu, walaupun misalnya nama itu dapat dikenal sebagai nama penulis. Tapi, ke mana mencari rujukan judul karangan yang hanya diindikasikan dengan angka tahun terbitnya saja? Siapa yang hapal akan semua judul karangan seseorang lengkap dengan tahun terbitnya?
Dengan demikian, menaruh nama orang dan angka tahun di antara tanda kurung tanpa disertai dengan Daftar Rujukan atau Referensi pada akhir karangan, hanyalah merupakan gaya penulisan yang sok ilmiah tanpa memahami maksudnya. Cara demikian lebih banyak terdorong oleh kebiasaan ikut‐ikutan tanpa mengetahui sebab atau tujuannya. Sayangnya cara demikian kini telah menjadi gaya yang umum karena para redaktur yang memuatkan karangan itu dalam majalah atau surat kabar yang diasuhnya tampaknya juga tidak tahu latar belakang penggunaan cara begitu. Begitu juga redaktur penerbit yang menerbitkan buku yang memakai cara demikian tapi tanpa menempatkan Daftar Rujukan atau Referensi pada akhir bukunya tampaknya tidak memahami tujuan pemakaian cara itu.
Masih ada cara lain lagi untuk menunjukkan rujukan dalam karangan ilmiah, yaitu perbauran dari kedua cara yang telah disebutkan tadi. Cara itu misalnya dipakai oleh Prof. Dr. Partini Sardjono Pradotokusumo dalam disertasinya Kakawin Gajah Mada (Sebuah Karya Sastra Kakawin Abad Ke‐20: Suntingan Naskah serta Telaah Struktur, Tokoh dan Hubungan Antarteks,1986, Bandung: Binacipta). Dalam disertasinya itu, Prof. Dr. Partini memakai catatan kaki, tetapi tidak menyebut judul karangan atau buku yang dirujuknya, melainkan hanya menyebut nama pengarang dan tahun terbit serta nomor halamannya saja. Keterangan lengkap tentang buku yang dirujuk itu terdapat pada "Pustaka Acuan" yang terdapat pada akhir buku. Tetapi Prof. Partini menganggap tidak penting menyebut nama penerbitnya, padahal hal itu penting bukan saja akan mempermudah pembaca yang ingin memiliki buku itu. Selain itu, karena kegiatan dunia penerbitan sekarang sering satu judul buku diterbitkan oleh bermacam penerbit dalam berbagi edisi yang sering pula berada di kota (tempat) yang sama.
Cara penulisan nama
Celakanya pula, cara menulis nama pun sering mengikuti cara orang Barat, yaitu menyebut nama keluarga atau nama akhirnya saja sehingga lebih membingungkan. Cara seperti itu memang dipakai juga oleh sebagian sarjana Indonesia, tetapi ada juga sarjana (antaranya Prof.Dr. A. Teeuw) yang kalau merujuk kepada nama orang Indonesia mengikuti cara pengenalan nama Indonesia, yaitu lebih dahulu menyebut nama diri baru nama kedua karena nama kedua orang Indonesia tidak selalu nama keluarga. Rosidi pada nama saya misalnya bukanlah nama ayah saya. Begitu juga Ekadjati pada Prof.Dr. Edi S. Ekadjati, Sedyawati pada Prof.Dr. Edi Sedyawati, Oemarjati pada Prof. Dr. Boen S. Oemarjati, dan lain‐lain. Banyak orang Indonesia yang hanya memakai satu nama seperti Sukarno, Suharto, Affandi, dan Drs. Buchari.
Bahkan, pada suku bangsa yang mempunyai tadisi nama keluarga (Manado, NTT, Maluku terutama yang memeluk agama Kristen) atau nama marga (Batak), orang lebih biasa merujuk kepada nama diri daripada nama keluarga atau marganya. Misalnya Gerson Poyk lebih dikenal sebagai "Gerson" daripada "Poyk", Mochtar Lubis, lebih dikenal sebagai "Mochtar" daripada "Lubis", serta (Adnan) Buyung Nasution lebih dikenal sebagai "Buyung" daripada "Nasution". Kalau kita membaca nama Nurcholish misalnya kita akan segera teringat kepada Prof.Dr. Nurcholish Madjid, tapi kalau kita membaca nama Madjid, mungkin kita ingat pada Madjid yang lain, atau bertanya‐tanya siapa gerangan yang dimaksud dengan nama itu. Keadaannya menjadi lebih membingungkan lagi karena tidak disertai dengan rujukan silang (cross reference). Sebenarnya baik memakai sistem Barat (dengan merujuk pada nama keluarga), ataupun cara Indonesia (dengan merujuk pada nama diri atau nama pertama) sama saja, asal ada rujukan silang. Jadi kalau memakai sistem Barat, Mochtar Lubis akan ditempatkan pada Lubis (di bawah huruf L), namun di bawah huruf M juga dicantumkan keterangan tentang "Mochtar" dengan menyebutkan agar melihat pada "Lubis" di bawah huruf L. Tetapi kalau tak ada rujukan silang, orang yang akan mencari keterangan tentang seseorang akan menjadi bingung. Orang yang ingin tahu tentang Navis, tidak akan mencari pada A kalau tak ada rujukan bahwa nama lengkap Navis adalah Ali Akbar Navis dan yang mencari keterangan tentang Moeljanto tidak akan mencari pada D, kalau tak ada keterangan rujukan singkatan dari apa gerangan huruf D (dan S) itu.
Indeks
Buku‐buku ilmiah biasanya memuatkan indeks (index) pada halaman‐halaman akhirnya. Indeks ini maksudnya untuk memudahkan pembaca yang hendak memeriksa atau mencari bagian yang membahas tentang orang atau subjek dalam buku tersebut. Karena itu, ada juga buku yang mempunyai dua macam indeks, yaitu indeks nama dan indeks subjek. Karena maksudnya menolong para pembaca, maka indeks sebaiknya lengkap. Tapi di kalangan para ahli terdapat pendapat yang diterima secara unanim bahwa indeks yang terlalu lengkap sehingga memasukkan segala hal yang tidak penting sama tak bermanfaatnya dengan indeks yang tidak lengkap. Karena itu dalam menyusun indeks, orang harus mempertimbangkan penting ataukah tidaknya sesuatu nama atau subjek. Dalam menyusun indeks nama, timbul lagi masalah cara penulisan nama di Indonesia. Namun yang lucu, banyak indeks (bahkan juga susunan nama dalam buku yang disebut "leksikon" pada judulnya) yang disusun persis menurut cara orang yang bersangkutan menulis namanya, termasuk huruf‐huruf inisial yang ditulis di depan namanya sehingga Navis didaftarkan pada A.A. Navis (tanpa keterangan apa kepanjangan A.A. yang terdapat di situ), Moeljanto pada D.S. Moeljanto (juga tanpa keterangan apa arti D.S. itu), Rustandi Karatakusumah pada Mh. Rustandi Kartakusumah (juga tanpa keterangan bahwa Mh. disitu kependekan dari Muhammad ‐ nama yang sering ditambahkan di depan nama lelaki orang Islam). Padahal pembaca tidak selalu ingat inisial seseorang yang ditaruh di depan namanya. Orang ingat pada Navis karena ia tidak pernah mempergunakan nama lengkap Ali Akbar pada karangankarangannya. Karena itu, kalau orang mau mencari sesuatu tentang dia pada suatu buku, niscaya akan mencarinya pada Navis, artinya pada huruf N, dan bukan pada huruf A. Begitu juga kalau orang mau mencari keterangan tentang Moeljanto, akan mencarinya ada huruf M, dan tidak pada huruf D. Rustandi juga akan dicari pada huruf R dan bukan pada huruf M. Dengan kerancuan demikian, maka indeks yang sekarang banyak dimuat dalam buku‐buku ilmiah kita itu menjadi kurang bermanfaat. Hal itu saya kira disebabkan karena para penulisnya tidak menyadari apa sebenarnya maksud indeks dalam sebuah buku. Maksudnya adalah untuk menolong pembaca yang ingin mencari keterangn tentang sesuatu nama atau subjek yang dibahas dalam buku itu dengan mudah dan bukan hanya gaya agar buku itu kelihatan ilmiah.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar