Tulisan ilmiah
Kegiatan penulisan karya ilmiah di Indonesia meningkat dengan pesat. Majalah umum dan khusus bersifat keilmuan kian banyak. Majalah yang umum misalnya Prisma, yang khusus Medika (kedokteran), Masyarakat Indonesia (ilmu‐ilmu sosial), Ilmu‐ilmu Sastra, Berita Arkeologi, dan lain‐lain. Buku‐buku ilmiah pun kian banyak yang terbit. Semuanya itu menunjukkan kian meningkatnya perhatian terhadap ilmu dan kian meningkatnya kegiatan menulis karya ilmiah. Dalam majalah dan surat kabar pun banyak karangan ilmiah yang dimuat sehingga orang awam pun dapat membacanya (jika mau). Tetapi kalau kita teliti karangan‐karangan dan buku‐buku itu, setidaknya ada dua hal cara menulis yang perlu dicatat, yaitu soal catatan kaki, cara penulisan nama, dan indeks. Dalam kesempatan ini saya ingin mengemukakan catatan tentang ketiga hal tersebut.
Catatan kaki
Catatan kaki atau footnotes sering terdapat dalam karangan‐karangan ilmiah sebagai pertanggungjawaban penulisnya kalau mengutip pendapat orang lain dalam buku atau dalam tulisan yang dimuat dalam majalah atau surat kabar, atau menunjukkan sumber lain, misalnya berdasarkan wawancara, percakapan, dan lain‐lain. Cara menunjukkan catatan itu dahulu biasa dengan memberi tanda pada tempat yang bersangkutan dengan angka Arab atau tanda lain.
Kemudian, keterangan tentang hal yang diberi tanda itu ditaruh pada kaki halaman dengan memberi tanda yang sama. Kalau dengan angka, setiap angka pada catatan kaki merujuk kepada angka pada tempat yang bersangkutan umumnya pada halaman yang sama, walaupun ada juga yang melanjutkan angka‐angka itu untuk setiap bab, bahkan untu seluruh buku. Keterangan catatan kaki biasanya diset dengan korps huruf yang lebih kecil. Orang yang suka menulis catatan kaki berpanjang‐panjang niscaya menimbulkan masalah pada penyusunan layout buku yang bersangkutan.
Pernah ada masanya catatan kaki demikian menjadi mode karena dianggap sebagai ciri bahwa karangan tersebut bersifat ilmiah. Karangan yang tidak memakai catatan kaki dianggap bukan karangan ilmiah. Maka kian banyak catatan kaki yang dibuat, kian dianggap tinggi nilai ilmiah karangan tersebut. Dengan demikian orang menganggapnya sebagi lambang (simbol) keilmiahan, bukan hanya sekadar pembantu bagi pembaca yang ingin mengetahui atau meneliti lebih lanjut.
Tetapi memberikan catatan kaki mempunyai masalah tersendiri. Dengan mesin tik manual, catatan kaki tidak mudah dibuat. Juga kalau karangan itu mau dimuat dalam majalah atau mau dijadikan buku, soal catatan kaki banyak menimbulkan persoalan layout bagi penerbit dan pengarang berhadapan dengan pihak percetakan.
Memberikan catatan pada kaki halaman bukanlah satu‐satunya cara yang biasa dipakai dalam penulisan karya ilmiah. Masih ada cara lain, misalnya yang di Indonesia mula‐mula dikembangkan oleh para sarjana Universitas Indonesia: Keterangan sumber kutipan atau rujukan tidak ditaruh pada kaki halaman dengan memberinya tanda berupa angka atau tanda lainnya, melainkan langsung di antara tanda kurung menyebut nama pengarang dan sumber karangannya. Karena kalau judul buku atau judul karangan, serta majalah atau surat kabar yang memuatnya secara lengkap akan terlalu banyak memakan tempat, maka yang ditulis hanya angka tahun buku itu atau karangan dalam majalah itu terbit dan kadang‐kadang dengan nomor halaman yang menjadi rujukannya, misalnya (Achadiati Ikram, 1997, h. 24) merujuk kepada buku karangan Prof. Dr. Achadiati Ikram yang terbit tahun 1997, h. 24. Judul buku yang dimaksud dicantumkan dalam Daftar Rujukan atau referensi pada akhir karangan, yaitu Achadiati Ikram, Filologi Nusantara, 1997, Jakarta: Pustaka Jaya. Dengan demikian pada akhir tulisan atau buku itu harus dicantumkan Daftar Rujukan (referensi) yang memuat keterangan lengkap tentang nama pengarang, judul karangan, tahun terbit, tempat terbit, dan nama penerbitnya. Karena mungkin saja seorang pengarang dalam satu tahun menulis buku atau karangan lebih dari satu, maka pada angka tahun itu sering diberi tanda a, b, c. Misalnya, angka 1950a, 1950b, 1950c yang maksudnya menunjukkan bahwa pada tahun 1950 orang itu menulis tiga buah karangan yang untuk membedakannya diberi tanda a, b, dan c. Judul buku atau judul karangan, judul majalah atau surat kabar (kalau karangan itu dimuat dalam majalah atau surat kabar), tahun terbit, tempat terbit, dan nama penerbit ketiganya harus dimuat dalam Daftar Rujukan (Referensi).
Cara penulisan catatan rujukan demikian memang lebih praktis karena tidak usah menempatkannya pada kaki halaman karena itu namanya pun tak tepat kalau "catatan kaki". Tetapi dalam karangan yang demikian, pada akhir karangan (atau pada akhir buku) harus dimuatkan Daftar Rujukan yang dimaksud. Artinya, segala sumber yang dirujuk dengan hanya menyebut nama pengarang dan tahun itu harus disebutkan pada Daftar Rujukan pada akhir karangan sehingga para pembaca yang penasaran dapat melacak kepada sumber rujukan. Tanpa adanya Daftar Rujukan pada akhir karangan maka penyebutan namanama di antara tanda kurung itu hanya akan menjadi teka‐teki belaka. Menimbulkan teka‐teki niscaya bukanlah sifat karangan ilmiah.
Pemakaian catatan kaki model kedua ini segera menjadi populer di antara par penulis Indonesia. Bahkan dalam karangan‐karangan yang bukan ilmiah pun, sering kita lihat ada tanda kurung yang disertai dengan nama orang dan tahun, malah nomor yang barangkali merujuk pada halaman sumber, tetapi pada akhir karangan tidak ada Daftar Rujukan atau referensi sama sekali. Maka para pembaca tidak tahu, apa arti nama orang dan tahun yang ditaruh di antara tanda kurung itu, walaupun misalnya nama itu dapat dikenal sebagai nama penulis. Tapi, ke mana mencari rujukan judul karangan yang hanya diindikasikan dengan angka tahun terbitnya saja? Siapa yang hapal akan semua judul karangan seseorang lengkap dengan tahun terbitnya?
Dengan demikian, menaruh nama orang dan angka tahun di antara tanda kurung tanpa disertai dengan Daftar Rujukan atau Referensi pada akhir karangan, hanyalah merupakan gaya penulisan yang sok ilmiah tanpa memahami maksudnya. Cara demikian lebih banyak terdorong oleh kebiasaan ikut‐ikutan tanpa mengetahui sebab atau tujuannya. Sayangnya cara demikian kini telah menjadi gaya yang umum karena para redaktur yang memuatkan karangan itu dalam majalah atau surat kabar yang diasuhnya tampaknya juga tidak tahu latar belakang penggunaan cara begitu. Begitu juga redaktur penerbit yang menerbitkan buku yang memakai cara demikian tapi tanpa menempatkan Daftar Rujukan atau Referensi pada akhir bukunya tampaknya tidak memahami tujuan pemakaian cara itu.
Masih ada cara lain lagi untuk menunjukkan rujukan dalam karangan ilmiah, yaitu perbauran dari kedua cara yang telah disebutkan tadi. Cara itu misalnya dipakai oleh Prof. Dr. Partini Sardjono Pradotokusumo dalam disertasinya Kakawin Gajah Mada (Sebuah Karya Sastra Kakawin Abad Ke‐20: Suntingan Naskah serta Telaah Struktur, Tokoh dan Hubungan Antarteks,1986, Bandung: Binacipta). Dalam disertasinya itu, Prof. Dr. Partini memakai catatan kaki, tetapi tidak menyebut judul karangan atau buku yang dirujuknya, melainkan hanya menyebut nama pengarang dan tahun terbit serta nomor halamannya saja. Keterangan lengkap tentang buku yang dirujuk itu terdapat pada "Pustaka Acuan" yang terdapat pada akhir buku. Tetapi Prof. Partini menganggap tidak penting menyebut nama penerbitnya, padahal hal itu penting bukan saja akan mempermudah pembaca yang ingin memiliki buku itu. Selain itu, karena kegiatan dunia penerbitan sekarang sering satu judul buku diterbitkan oleh bermacam penerbit dalam berbagi edisi yang sering pula berada di kota (tempat) yang sama.
Cara penulisan nama
Celakanya pula, cara menulis nama pun sering mengikuti cara orang Barat, yaitu menyebut nama keluarga atau nama akhirnya saja sehingga lebih membingungkan. Cara seperti itu memang dipakai juga oleh sebagian sarjana Indonesia, tetapi ada juga sarjana (antaranya Prof.Dr. A. Teeuw) yang kalau merujuk kepada nama orang Indonesia mengikuti cara pengenalan nama Indonesia, yaitu lebih dahulu menyebut nama diri baru nama kedua karena nama kedua orang Indonesia tidak selalu nama keluarga. Rosidi pada nama saya misalnya bukanlah nama ayah saya. Begitu juga Ekadjati pada Prof.Dr. Edi S. Ekadjati, Sedyawati pada Prof.Dr. Edi Sedyawati, Oemarjati pada Prof. Dr. Boen S. Oemarjati, dan lain‐lain. Banyak orang Indonesia yang hanya memakai satu nama seperti Sukarno, Suharto, Affandi, dan Drs. Buchari.
Bahkan, pada suku bangsa yang mempunyai tadisi nama keluarga (Manado, NTT, Maluku terutama yang memeluk agama Kristen) atau nama marga (Batak), orang lebih biasa merujuk kepada nama diri daripada nama keluarga atau marganya. Misalnya Gerson Poyk lebih dikenal sebagai "Gerson" daripada "Poyk", Mochtar Lubis, lebih dikenal sebagai "Mochtar" daripada "Lubis", serta (Adnan) Buyung Nasution lebih dikenal sebagai "Buyung" daripada "Nasution". Kalau kita membaca nama Nurcholish misalnya kita akan segera teringat kepada Prof.Dr. Nurcholish Madjid, tapi kalau kita membaca nama Madjid, mungkin kita ingat pada Madjid yang lain, atau bertanya‐tanya siapa gerangan yang dimaksud dengan nama itu. Keadaannya menjadi lebih membingungkan lagi karena tidak disertai dengan rujukan silang (cross reference). Sebenarnya baik memakai sistem Barat (dengan merujuk pada nama keluarga), ataupun cara Indonesia (dengan merujuk pada nama diri atau nama pertama) sama saja, asal ada rujukan silang. Jadi kalau memakai sistem Barat, Mochtar Lubis akan ditempatkan pada Lubis (di bawah huruf L), namun di bawah huruf M juga dicantumkan keterangan tentang "Mochtar" dengan menyebutkan agar melihat pada "Lubis" di bawah huruf L. Tetapi kalau tak ada rujukan silang, orang yang akan mencari keterangan tentang seseorang akan menjadi bingung. Orang yang ingin tahu tentang Navis, tidak akan mencari pada A kalau tak ada rujukan bahwa nama lengkap Navis adalah Ali Akbar Navis dan yang mencari keterangan tentang Moeljanto tidak akan mencari pada D, kalau tak ada keterangan rujukan singkatan dari apa gerangan huruf D (dan S) itu.
Indeks
Buku‐buku ilmiah biasanya memuatkan indeks (index) pada halaman‐halaman akhirnya. Indeks ini maksudnya untuk memudahkan pembaca yang hendak memeriksa atau mencari bagian yang membahas tentang orang atau subjek dalam buku tersebut. Karena itu, ada juga buku yang mempunyai dua macam indeks, yaitu indeks nama dan indeks subjek. Karena maksudnya menolong para pembaca, maka indeks sebaiknya lengkap. Tapi di kalangan para ahli terdapat pendapat yang diterima secara unanim bahwa indeks yang terlalu lengkap sehingga memasukkan segala hal yang tidak penting sama tak bermanfaatnya dengan indeks yang tidak lengkap. Karena itu dalam menyusun indeks, orang harus mempertimbangkan penting ataukah tidaknya sesuatu nama atau subjek. Dalam menyusun indeks nama, timbul lagi masalah cara penulisan nama di Indonesia. Namun yang lucu, banyak indeks (bahkan juga susunan nama dalam buku yang disebut "leksikon" pada judulnya) yang disusun persis menurut cara orang yang bersangkutan menulis namanya, termasuk huruf‐huruf inisial yang ditulis di depan namanya sehingga Navis didaftarkan pada A.A. Navis (tanpa keterangan apa kepanjangan A.A. yang terdapat di situ), Moeljanto pada D.S. Moeljanto (juga tanpa keterangan apa arti D.S. itu), Rustandi Karatakusumah pada Mh. Rustandi Kartakusumah (juga tanpa keterangan bahwa Mh. disitu kependekan dari Muhammad ‐ nama yang sering ditambahkan di depan nama lelaki orang Islam). Padahal pembaca tidak selalu ingat inisial seseorang yang ditaruh di depan namanya. Orang ingat pada Navis karena ia tidak pernah mempergunakan nama lengkap Ali Akbar pada karangankarangannya. Karena itu, kalau orang mau mencari sesuatu tentang dia pada suatu buku, niscaya akan mencarinya pada Navis, artinya pada huruf N, dan bukan pada huruf A. Begitu juga kalau orang mau mencari keterangan tentang Moeljanto, akan mencarinya ada huruf M, dan tidak pada huruf D. Rustandi juga akan dicari pada huruf R dan bukan pada huruf M. Dengan kerancuan demikian, maka indeks yang sekarang banyak dimuat dalam buku‐buku ilmiah kita itu menjadi kurang bermanfaat. Hal itu saya kira disebabkan karena para penulisnya tidak menyadari apa sebenarnya maksud indeks dalam sebuah buku. Maksudnya adalah untuk menolong pembaca yang ingin mencari keterangn tentang sesuatu nama atau subjek yang dibahas dalam buku itu dengan mudah dan bukan hanya gaya agar buku itu kelihatan ilmiah.***
Rabu, 13 April 2011
Selasa, 12 April 2011
KARANGAN ILMIAH
Menulis Karangan Ilmiah Populer
1. Pendahuluan
Banyak majalah atau surat kabar mempunyai rubrik iptek, yang memuat tulisan-tulisan yang memaparkan aspek khusus iptek dengan menggunakan bahasan umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam. Tulisan seperti itu dinamakan karangan ilmiah populer, yang dikarang oleh penulisnya untuk mengkomunikasikan sejarah, penemuan, perkembangan baru, aplikasi, atau juga isu kontroversi iptek, kepada masyarakat awam agar mereka dapat mengikuti perkembangan iptek tersebut. Tidak seperti halnya artikel jurnal, karangan ilmiah populer dari sudut materi tidak mendalam, namun memberi kejelasan kepada awam tentang fenomena iptek.
Keberadaan karangan ilmiah populer di majalah dan surat kabar di samping menjadi wahana untuk mengkomunikasikan iptek kepada masyarakat awam, juga membawa misi menghibur atau menjadi selingan (entertainment) bagi pembaca majalah atau surat kabar tersebut. Oleh karena misinya seperti itu maka sebuah karangan ilmiah populer harus menarik pembaca majalah dan surat kabar untuk membacanya. Berbeda halnya dengan jurnal ilmiah yang harus dibaca oleh para profesional dalam bidangnya, majalah dan surat kabar harus bersaing merebut hati pembacanya. Dalam kaitan itu karangan ilmiah populer dalam media massa perlu berkontribusi pada pembentukan daya tarik media secara keseluruhan. Bahkan dapat pula justru karangan-karangan ilmiah populer menjadi “selling point” media massa tersebut.
Mengetahui bagaimana menulis karangan ilmiah populer sangat penting bagi ilmuwan yang memposisikan diri sebagai komunikator iptek atau jurnalis iptek, baik sebagai pekerjaan utama atau pekerjaan tambahan.
2. Karakteristik Karangan Ilmiah Populer
• Apabila pembaca artikel jurnal adalah profesional atau spesialis dalam suatu disiplin ilmu, maka pembaca karangan ilmiah populer adalah masyarakat umum, awam atau profesional dalam bidang lain.
• Apabila penulis artikel jurnal selain memberikan nama, lembaga akademik tempat ia bekerja serta kualifikasi akademiknya, maka penulis karangan ilmiah populer menuliskan nama tanpa informasi lain, kecuali ia adalah repoter.
• Apabila artikel jurnal ditulis dengan gaya tulis faktual dan “dingin” (tak-emosional) demi objektifitas, maka karangan ilmiah populer ditulis dengan gaya informal, anekdot, personal, serta menghibur.
• Apabila artikel jurnal ditulis dengan kalimat yang lebih kompleks dan relatif panjang serta penuh dengan istilah teknis, maka karangan ilmiah populer ditulis dengan kalimat-kalimat singkat dan sederhana serta mudah dibaca.
• Apabila artikel jurnal menyertakan kutipan, catatan kaki (footnotes) dan daftar pustaka agar materi yang ditulis dapat divalidasi, maka karangan ilmiah populer umumnya tidak meyertakan informasi-informasi tersebut.
• Apabila artikel jurnal lebih dipenuhi tulisan verbal dan sedikit tabel, maka karangan ilmiah populer seringkali dilengkapi dengan berbagai ilustrasi, gambar, foto, dll.
• Apabila kebenaran isi artikel jurnal dievaluasi melalui reviu oleh sejawat atau dewan pakar sebagai “referee”, maka pertanggungjawaban isi karangan ilmiah populer cukup diberikan oleh editor majalah.
3. Topik Karangan Ilmiah Populer
Pada dasarnya masyarakatlah yang membiayai (melalui pajak dan pemanfaatan aset bangsa) kegiatan iptek. Oleh karenanya menjadi hak masyarakat untuk memperoleh informasi tentang hal-ihwal mengenai kegiatan iptek itu sendiri. Dengan demikian menjadi kewajiban komunikator iptek (iptekwan & jurnalis iptek) untuk mempublikasikan karangan ilmiah populer melalui majalah dan surat kabar. Melalui karangan ilmiah populer ini informasi tentang iptek yang telah dan akan hadir di masyarakat, baik proses, produk, aplikasi, prospek, maupun isu kontroversi (pro & contra) iptek dapat dikomunikasikan kepada masyarakat umum, untuk menjadi rujukan dalam menyikapi iptek. Dalam kaitan ini topik-topik karangan ilmiah populer hendaknya terkait pada aspek-aspek iptek tersebut.
Oleh karena daya tarik menjadi karakter penting dari karangan ilmiah populer, maka isu-isu mutakhir terkait iptek yang tengah menjadi wanaca publik seringkali menjadi tema sentral karangan ilmiah populer. Sebagai contoh, menyertai konflik Amerika Serikat dengan teroris internasional, senjata kimia, senjata biologis, anthrax, bom, menjadi topik-topik karangan ilmiah populer yang muncul dalam majalah dan surat kabar. Contoh lain adalah topik yang terkait pada meteor mengemuka menjelang turunnya “badai meteor” ke Planet Bumi pada tahun 2001. Demikian juga paparan tentang bahan dan proses pembuatan MSG lebih dari satu bulan muncul dalam berbagai media massa ketika terjadi “kontroversi Ajinomoto” pada tahun 2000.
4. Gaya Penulisan Karangan Ilmiah Populer
• Mulai karangan dengan pendahuluan yang kreatif, yang mampu merangkul atau mencuri perhatian pembaca, serta mendorong pembaca untuk membaca bagian-bagian berikutnya. Lebih kreatif bagian pendahuluan, lebih besar peluang suatu karangan ilmiah populer dibaca tuntas pembacanya. Salah satu kekuatan karangan terletak pada bagian pendahuluan tersebut. Sementara itu bagian-bagian berikutnya perlu memuat kalimat-kalimat utama yang menjadi “point of interest” bagi pembaca. Kalimat-kalimat perlu dirangkai sehingga di samping memberikan kejelasan maknanya dan bekontribusi pada tema atikel, juga menyebabkan pembaca tertarik untuk membaca artikel sampai tuntas.
• Agar mudah dicerna pembaca secara lebih luas, karangan ilmiah populer hendaknya ditulis dengan panjang kalimat dan panjang paragraf yang sesuai pembaca dari berbagai lapisan masyarakat. Sebaiknya kalimat pada artikel ilmiah populer terdiri atas paling banyak 20 kata untuk meningkatkan keterbacaan untuk pembaca pada umumnya.
• Sekalipun penulis artikel ilmiah populer seorang iptekwan, tetapi hendaknya hindari penggunaan terlalu banyak istilah-istilah teknis. Pembaca majalah atau surat kabar tidak mempunyai tingkat pendidikan seperti penulis, hingga jangan menggunakan kata-kata yang tidak akan dimengerti. Bila suatu istilah tidak tergantikan oleh kata yang kurang teknis, hendaknya definisi perlu diberikan bersama istilah tersebut. Pemahaman terhadap isi artikel akan menyebabkan pembaca menyenangi apa yang dibacanya dan merasa nyaman dengan majalah atau surat kabar pemuatnya secara keseluruhan.
• Gunakan bahasa yang kolokial (informal) untuk mengembangkan “hubungan yang dekat” antara penulis dan pembaca. Buat pula agar pembaca merasa sedang berdialog secara sejajar dengan penulisnya, bukan sedang diajari oleh seorang pakar. Oleh karenanya dianjurkan untuk menggunakan lebih banyak kalimat aktif untuk menciptakan hubungan informal. (Catatan: Laporan ilmiah standar umumnya ditulis dengan kalimat pasif untuk menekankan obyektivitas). Tidak ada salahnya juga menyapa pembaca dengan “Anda” dan menyebut penulis dengan “Saya” agar hubungan antara penulis dan pembaca lebih dekat.
• Tingkatkan dimensi “human interest” dari artikel ilmiah populer yang ditulis, dengan cara memasukkan unsur ceritera, anekdot, dan humor pada artikel. Pada dasarnya manusia lebih tertarik tertarik pada ceritera tentang orang lain daripada obyek lainnya. Oleh karenanya memberikan sentuhan-sentuhan kemanusiaan pada karangan ilmiah populer dapat meningkatkan daya tarik artikel tersebut.
• Gunakan analogi dan metafora untuk memberikan penjelasan tentang sesuatu proses yang kompleks. Sertakan ilustrasi-ilustrasi bergambar (pictorial) untuk memperjelas, selingan, dan juga hiasan, seperti halnya foto (berwarna lebih menguntungkan), diagram, tabel, gambar, atau karikatur. Foto membantu memberikan paparan detail melalui gambar, sedangkan gambar umumnya atraktif bagi pembaca. Berikan deskripsi singkat tentang foto menyertai foto tersebut.
• Tiap paragraf harus terstruktur dengan cara yang sama. Paragraf harus mulai dengan kalimat topik, dan lalu diikuti oleh informasi yang berhubungan dengan topik dalam kalimat topik. Struktur kalimat perlu diperhatikan dalam menulis artikel
• Sistematika penulisan dapat berbagai macam, bergantung pada sifat materi yang dipaparkan. Dapat berupa urutan khronologis peristiwa-peristiwa, atau dapat pula menyajikan permasalahan yang diikuti dengan solusi-solusinya. Apapun pola pengembangan paparan yang dipilih, harus menunjukkan kelogisan paparan, sehingga mereka merasa nyaman ketika membaca artikel tersebut, serta mengerti apa yang dibacanya itu.
• Tutup artikel dengan sebuah rangkuman yang menjadi simpulan dari semua paparan. Penutup merupaan bagian akhir yang dibaca pembaca, yang akan membetuk impresi pembaca terhadap penjelasan atau persoalan yang diketengahkan. Penutup merupakan juga titik kekuatan artikel, sehingga perlu ditulis secara hati-hati.
Referensi
Deeker, W. Popularizing Scientific and technical Subjects in Writing. [Online.] Tersedia: http://www.crss.csrio.au/staff/wayne.html [7 November 2001].
Notes on Writing Articles for Popular Audiences. [Online.] Tersedia: http://www.abdn.ac.uk/physics/guide/article.html/ [7 November 2001].
Popular Magazine or Scholarly Journal, How to Distinguish. [Online.] Tersedia: http://www.mc.cc.md.us/library/jourmag.htm [7 November 2001].
1. Pendahuluan
Banyak majalah atau surat kabar mempunyai rubrik iptek, yang memuat tulisan-tulisan yang memaparkan aspek khusus iptek dengan menggunakan bahasan umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam. Tulisan seperti itu dinamakan karangan ilmiah populer, yang dikarang oleh penulisnya untuk mengkomunikasikan sejarah, penemuan, perkembangan baru, aplikasi, atau juga isu kontroversi iptek, kepada masyarakat awam agar mereka dapat mengikuti perkembangan iptek tersebut. Tidak seperti halnya artikel jurnal, karangan ilmiah populer dari sudut materi tidak mendalam, namun memberi kejelasan kepada awam tentang fenomena iptek.
Keberadaan karangan ilmiah populer di majalah dan surat kabar di samping menjadi wahana untuk mengkomunikasikan iptek kepada masyarakat awam, juga membawa misi menghibur atau menjadi selingan (entertainment) bagi pembaca majalah atau surat kabar tersebut. Oleh karena misinya seperti itu maka sebuah karangan ilmiah populer harus menarik pembaca majalah dan surat kabar untuk membacanya. Berbeda halnya dengan jurnal ilmiah yang harus dibaca oleh para profesional dalam bidangnya, majalah dan surat kabar harus bersaing merebut hati pembacanya. Dalam kaitan itu karangan ilmiah populer dalam media massa perlu berkontribusi pada pembentukan daya tarik media secara keseluruhan. Bahkan dapat pula justru karangan-karangan ilmiah populer menjadi “selling point” media massa tersebut.
Mengetahui bagaimana menulis karangan ilmiah populer sangat penting bagi ilmuwan yang memposisikan diri sebagai komunikator iptek atau jurnalis iptek, baik sebagai pekerjaan utama atau pekerjaan tambahan.
2. Karakteristik Karangan Ilmiah Populer
• Apabila pembaca artikel jurnal adalah profesional atau spesialis dalam suatu disiplin ilmu, maka pembaca karangan ilmiah populer adalah masyarakat umum, awam atau profesional dalam bidang lain.
• Apabila penulis artikel jurnal selain memberikan nama, lembaga akademik tempat ia bekerja serta kualifikasi akademiknya, maka penulis karangan ilmiah populer menuliskan nama tanpa informasi lain, kecuali ia adalah repoter.
• Apabila artikel jurnal ditulis dengan gaya tulis faktual dan “dingin” (tak-emosional) demi objektifitas, maka karangan ilmiah populer ditulis dengan gaya informal, anekdot, personal, serta menghibur.
• Apabila artikel jurnal ditulis dengan kalimat yang lebih kompleks dan relatif panjang serta penuh dengan istilah teknis, maka karangan ilmiah populer ditulis dengan kalimat-kalimat singkat dan sederhana serta mudah dibaca.
• Apabila artikel jurnal menyertakan kutipan, catatan kaki (footnotes) dan daftar pustaka agar materi yang ditulis dapat divalidasi, maka karangan ilmiah populer umumnya tidak meyertakan informasi-informasi tersebut.
• Apabila artikel jurnal lebih dipenuhi tulisan verbal dan sedikit tabel, maka karangan ilmiah populer seringkali dilengkapi dengan berbagai ilustrasi, gambar, foto, dll.
• Apabila kebenaran isi artikel jurnal dievaluasi melalui reviu oleh sejawat atau dewan pakar sebagai “referee”, maka pertanggungjawaban isi karangan ilmiah populer cukup diberikan oleh editor majalah.
3. Topik Karangan Ilmiah Populer
Pada dasarnya masyarakatlah yang membiayai (melalui pajak dan pemanfaatan aset bangsa) kegiatan iptek. Oleh karenanya menjadi hak masyarakat untuk memperoleh informasi tentang hal-ihwal mengenai kegiatan iptek itu sendiri. Dengan demikian menjadi kewajiban komunikator iptek (iptekwan & jurnalis iptek) untuk mempublikasikan karangan ilmiah populer melalui majalah dan surat kabar. Melalui karangan ilmiah populer ini informasi tentang iptek yang telah dan akan hadir di masyarakat, baik proses, produk, aplikasi, prospek, maupun isu kontroversi (pro & contra) iptek dapat dikomunikasikan kepada masyarakat umum, untuk menjadi rujukan dalam menyikapi iptek. Dalam kaitan ini topik-topik karangan ilmiah populer hendaknya terkait pada aspek-aspek iptek tersebut.
Oleh karena daya tarik menjadi karakter penting dari karangan ilmiah populer, maka isu-isu mutakhir terkait iptek yang tengah menjadi wanaca publik seringkali menjadi tema sentral karangan ilmiah populer. Sebagai contoh, menyertai konflik Amerika Serikat dengan teroris internasional, senjata kimia, senjata biologis, anthrax, bom, menjadi topik-topik karangan ilmiah populer yang muncul dalam majalah dan surat kabar. Contoh lain adalah topik yang terkait pada meteor mengemuka menjelang turunnya “badai meteor” ke Planet Bumi pada tahun 2001. Demikian juga paparan tentang bahan dan proses pembuatan MSG lebih dari satu bulan muncul dalam berbagai media massa ketika terjadi “kontroversi Ajinomoto” pada tahun 2000.
4. Gaya Penulisan Karangan Ilmiah Populer
• Mulai karangan dengan pendahuluan yang kreatif, yang mampu merangkul atau mencuri perhatian pembaca, serta mendorong pembaca untuk membaca bagian-bagian berikutnya. Lebih kreatif bagian pendahuluan, lebih besar peluang suatu karangan ilmiah populer dibaca tuntas pembacanya. Salah satu kekuatan karangan terletak pada bagian pendahuluan tersebut. Sementara itu bagian-bagian berikutnya perlu memuat kalimat-kalimat utama yang menjadi “point of interest” bagi pembaca. Kalimat-kalimat perlu dirangkai sehingga di samping memberikan kejelasan maknanya dan bekontribusi pada tema atikel, juga menyebabkan pembaca tertarik untuk membaca artikel sampai tuntas.
• Agar mudah dicerna pembaca secara lebih luas, karangan ilmiah populer hendaknya ditulis dengan panjang kalimat dan panjang paragraf yang sesuai pembaca dari berbagai lapisan masyarakat. Sebaiknya kalimat pada artikel ilmiah populer terdiri atas paling banyak 20 kata untuk meningkatkan keterbacaan untuk pembaca pada umumnya.
• Sekalipun penulis artikel ilmiah populer seorang iptekwan, tetapi hendaknya hindari penggunaan terlalu banyak istilah-istilah teknis. Pembaca majalah atau surat kabar tidak mempunyai tingkat pendidikan seperti penulis, hingga jangan menggunakan kata-kata yang tidak akan dimengerti. Bila suatu istilah tidak tergantikan oleh kata yang kurang teknis, hendaknya definisi perlu diberikan bersama istilah tersebut. Pemahaman terhadap isi artikel akan menyebabkan pembaca menyenangi apa yang dibacanya dan merasa nyaman dengan majalah atau surat kabar pemuatnya secara keseluruhan.
• Gunakan bahasa yang kolokial (informal) untuk mengembangkan “hubungan yang dekat” antara penulis dan pembaca. Buat pula agar pembaca merasa sedang berdialog secara sejajar dengan penulisnya, bukan sedang diajari oleh seorang pakar. Oleh karenanya dianjurkan untuk menggunakan lebih banyak kalimat aktif untuk menciptakan hubungan informal. (Catatan: Laporan ilmiah standar umumnya ditulis dengan kalimat pasif untuk menekankan obyektivitas). Tidak ada salahnya juga menyapa pembaca dengan “Anda” dan menyebut penulis dengan “Saya” agar hubungan antara penulis dan pembaca lebih dekat.
• Tingkatkan dimensi “human interest” dari artikel ilmiah populer yang ditulis, dengan cara memasukkan unsur ceritera, anekdot, dan humor pada artikel. Pada dasarnya manusia lebih tertarik tertarik pada ceritera tentang orang lain daripada obyek lainnya. Oleh karenanya memberikan sentuhan-sentuhan kemanusiaan pada karangan ilmiah populer dapat meningkatkan daya tarik artikel tersebut.
• Gunakan analogi dan metafora untuk memberikan penjelasan tentang sesuatu proses yang kompleks. Sertakan ilustrasi-ilustrasi bergambar (pictorial) untuk memperjelas, selingan, dan juga hiasan, seperti halnya foto (berwarna lebih menguntungkan), diagram, tabel, gambar, atau karikatur. Foto membantu memberikan paparan detail melalui gambar, sedangkan gambar umumnya atraktif bagi pembaca. Berikan deskripsi singkat tentang foto menyertai foto tersebut.
• Tiap paragraf harus terstruktur dengan cara yang sama. Paragraf harus mulai dengan kalimat topik, dan lalu diikuti oleh informasi yang berhubungan dengan topik dalam kalimat topik. Struktur kalimat perlu diperhatikan dalam menulis artikel
• Sistematika penulisan dapat berbagai macam, bergantung pada sifat materi yang dipaparkan. Dapat berupa urutan khronologis peristiwa-peristiwa, atau dapat pula menyajikan permasalahan yang diikuti dengan solusi-solusinya. Apapun pola pengembangan paparan yang dipilih, harus menunjukkan kelogisan paparan, sehingga mereka merasa nyaman ketika membaca artikel tersebut, serta mengerti apa yang dibacanya itu.
• Tutup artikel dengan sebuah rangkuman yang menjadi simpulan dari semua paparan. Penutup merupaan bagian akhir yang dibaca pembaca, yang akan membetuk impresi pembaca terhadap penjelasan atau persoalan yang diketengahkan. Penutup merupakan juga titik kekuatan artikel, sehingga perlu ditulis secara hati-hati.
Referensi
Deeker, W. Popularizing Scientific and technical Subjects in Writing. [Online.] Tersedia: http://www.crss.csrio.au/staff/wayne.html [7 November 2001].
Notes on Writing Articles for Popular Audiences. [Online.] Tersedia: http://www.abdn.ac.uk/physics/guide/article.html/ [7 November 2001].
Popular Magazine or Scholarly Journal, How to Distinguish. [Online.] Tersedia: http://www.mc.cc.md.us/library/jourmag.htm [7 November 2001].
Minggu, 10 April 2011
SILOGISME KATEGORIAL
Silogisme Kategorial
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Silogisme terdiri dari; Silogisme Katagorik, Silogisme Hipotetik dan Silogisme Disyungtif.
a. Silogisme Katagorial.
Silogisme Katagorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). Contoh : Semua tumbuhan membutuhkan air (premis mayor). Akasia adalah tumbuhan (premis minor). Akasia membutuhkan air (Konklusi)
Hukum-hukum Silogisme Katagorial.
Apabila salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga. Contoh; Semua yang halal dimakan menyehatkan (mayor). Sebagian makanan tidak menyehatkan (minor). Maka; Sebagian makanan tidak halal dimakan (konklusi).
Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga. Contoh; Semua korusi tidak disenangi (mayor). Sebagian pejabat korusi (minor). Maka; Sebagian pejabat tidak disenangi (konklusi).
Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan. Contoh; Beberapa politikus tidak jujur (premis 1). Bambang adalah politikus (premis 2). Kedua premis tersebut tidak bisa disimpulkan. Jika dibuat kesimpulan, maka kesimpulannya hanya bersifat kemungkinan (bukan kepastian). Bambang mungkin tidak jujur (konklusi).
Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpul dapat diambil jika salah satu premisnya positif. Contoh; kerbau bukan bunga mawar (premis 1). Kucing bukan bunga mawar (premis 2). Kesimpulannya? Tidak ada.
Apabila term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Contoh; semua ikan berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin. Maka, binatang ini adalah ikan? Mungkin saja binatang melata.
Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan salah. Contoh; kerbau adalah binatang (premis 1). Kambing bukan kerbau (premis 2). Maka; kambing bukan binatang ? Binatang pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis 1 bersifat positif
Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.contoh; Bulan itu bersinar di langit (mayor). Januari adalah bulan (minor). Maka; januari bersinar dilangit?
Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak bisa diturunkan konklsinya. Contoh; kucing adalah binatang (premis1). Domba adalah binatang (premis 2). Beringin adalah tumbuahan (premis3). Sawo adalah tumbuhan (premis4). Konklusinya?
b. Silogisme Hipotetik
Silogisme Hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent. contoh; jika hujan saya naik becak (mayor). Sekarang hujan (minor). Maka saya naik becak (konklusi).
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya. Contoh Jika hujan, bumi akan basah (mayor). Sekarang bumi telah basah (minor). Maka hujan telah turun (konklusi)
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent. contoh; Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul. Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa. Maka kegelisahan tidak akan timbul.
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya. contoh:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah. Pihak penguasa tidak gelisah.
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Hukum-hukum Silogisme Hipotetik
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, maka hukum silogisme hipotetik adalah:
1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
c. Silogisme Disyungtif
Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.
Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif. Contoh; Heri jujur atau berbohong (premis1). Ternyata Heri berbohong (premis2). Maka ia tidak jujur (konklusi).
Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayotnya mempunyai alternatif bukan kontradiktif. Contoh; Hasan di rumah atau di pasar (premis1). Ternyata tidak di rumah(premis2). Jadi hasan di pasar (konklusi).
Hukum-hukum Silogisme Disyungtif
Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid. Contoh; Hasan berbaju putih atau tidak putih. Ternyata Hasan berbaju putih. Maka hasan bukan tidak berbaju putih.
Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya adalah sebagai berikut:
Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar). Contoh: Budi menjadi guru atau pelaut. Budi adalah guru. Maka Budi bukan pelaut.
Bila premis minor mengingkari salah satu alternative, maka konklusinya tidak sah (salah). contoh: Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya. Ternyata tidak lari ke Yogya. Maka dia lari ke Solo? Konklusi yang salah karena bisa jadi dia lari ke kota lain.
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Silogisme terdiri dari; Silogisme Katagorik, Silogisme Hipotetik dan Silogisme Disyungtif.
a. Silogisme Katagorial.
Silogisme Katagorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). Contoh : Semua tumbuhan membutuhkan air (premis mayor). Akasia adalah tumbuhan (premis minor). Akasia membutuhkan air (Konklusi)
Hukum-hukum Silogisme Katagorial.
Apabila salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga. Contoh; Semua yang halal dimakan menyehatkan (mayor). Sebagian makanan tidak menyehatkan (minor). Maka; Sebagian makanan tidak halal dimakan (konklusi).
Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga. Contoh; Semua korusi tidak disenangi (mayor). Sebagian pejabat korusi (minor). Maka; Sebagian pejabat tidak disenangi (konklusi).
Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan. Contoh; Beberapa politikus tidak jujur (premis 1). Bambang adalah politikus (premis 2). Kedua premis tersebut tidak bisa disimpulkan. Jika dibuat kesimpulan, maka kesimpulannya hanya bersifat kemungkinan (bukan kepastian). Bambang mungkin tidak jujur (konklusi).
Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpul dapat diambil jika salah satu premisnya positif. Contoh; kerbau bukan bunga mawar (premis 1). Kucing bukan bunga mawar (premis 2). Kesimpulannya? Tidak ada.
Apabila term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Contoh; semua ikan berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin. Maka, binatang ini adalah ikan? Mungkin saja binatang melata.
Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan salah. Contoh; kerbau adalah binatang (premis 1). Kambing bukan kerbau (premis 2). Maka; kambing bukan binatang ? Binatang pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis 1 bersifat positif
Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.contoh; Bulan itu bersinar di langit (mayor). Januari adalah bulan (minor). Maka; januari bersinar dilangit?
Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak bisa diturunkan konklsinya. Contoh; kucing adalah binatang (premis1). Domba adalah binatang (premis 2). Beringin adalah tumbuahan (premis3). Sawo adalah tumbuhan (premis4). Konklusinya?
b. Silogisme Hipotetik
Silogisme Hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent. contoh; jika hujan saya naik becak (mayor). Sekarang hujan (minor). Maka saya naik becak (konklusi).
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya. Contoh Jika hujan, bumi akan basah (mayor). Sekarang bumi telah basah (minor). Maka hujan telah turun (konklusi)
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent. contoh; Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul. Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa. Maka kegelisahan tidak akan timbul.
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya. contoh:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah. Pihak penguasa tidak gelisah.
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Hukum-hukum Silogisme Hipotetik
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, maka hukum silogisme hipotetik adalah:
1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
c. Silogisme Disyungtif
Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.
Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif. Contoh; Heri jujur atau berbohong (premis1). Ternyata Heri berbohong (premis2). Maka ia tidak jujur (konklusi).
Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayotnya mempunyai alternatif bukan kontradiktif. Contoh; Hasan di rumah atau di pasar (premis1). Ternyata tidak di rumah(premis2). Jadi hasan di pasar (konklusi).
Hukum-hukum Silogisme Disyungtif
Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid. Contoh; Hasan berbaju putih atau tidak putih. Ternyata Hasan berbaju putih. Maka hasan bukan tidak berbaju putih.
Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya adalah sebagai berikut:
Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar). Contoh: Budi menjadi guru atau pelaut. Budi adalah guru. Maka Budi bukan pelaut.
Bila premis minor mengingkari salah satu alternative, maka konklusinya tidak sah (salah). contoh: Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya. Ternyata tidak lari ke Yogya. Maka dia lari ke Solo? Konklusi yang salah karena bisa jadi dia lari ke kota lain.
PENALARAN DEDUKTIF-INDUKTIF
Penalaran (reasoning)
Penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran,dan sebab itu lebih sulit disbanding pengertian dan proposisi. Secara sederhana penalaran dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proposisi-proposisi yang mendahuluinya.
Contoh:
Logam 1 dipanasi dan memuai
Logam 2 dipanasi dan memuai
Logam 3 dipanasi dan memuai
Logam 4 dipanasi dan memuai
Logam 5 dipanasi dan memuai
Dan seterusnya
Jadi : semua logam yang dipanasi memuai
Konklusi dan premis
Dari contoh diatas,dapat dikatakan bahwa penalaran ialah gerak pemikikiran dari proposisi 1 dan seterusnya,hingga proposisi terakhir(=kesimpulan). Jadi penalaran suatu proses pikiran. Sebuah penalaran terdiri atas:premis dan kesimpulan. Premis mayor dan premis minor.
Penalaran deduktif dan induktif
Biasanya dibadakan menjadi dua maccam penalaran, konklusi lebih sempit dari premis. Pada penalaran induktif, konklusi lebih luas dari premis.
Contoh penalaran deduktif:
Semua manusia akan mati (premis mayor)
Bambang adalah manusia (premis minor)
Jadi: bambang akan mati (konklusi)
Contoh penalaran induktif
Logam 1 memuai kalau dipanaskan (mayor mayor)
Logam 2 memuai kalau dipanaskan (premis minor)
Semua logam memuai kalau dipanaskan (konklusi)
Hukum-hukum penalaran
Perlu dipahami bahwa”yang benar” tidak tidak sama dengan yang logis. Yang benar benar adalah suatu proposisi. Sebuah proposisi itu benar kalau ada kesesuaian antara subyek dan predikat. Yang logis adalah penalaran. Suatu penalaran dikatakan logis kalau mempunyai bentuk yang tepat, da sebab itu penalaran itu sahih. Maka hubungan kebenaran antara premis dan konklusi dapat dirumuskan dalam hukum-hukum penalaran sebagai berikut:
1. Apabila premis benar,konklusi benar
Contoh:
Semua manusia akan mati
Ali adalah manusia
Jadi: Ali akan mati
Disini premis mayor dan minor benar.oleh karena itu konklusinya juga benar.
2. Konklusi salah ,premis juga salah
Contoh:
Semua manusia akan mati
Malaikat adalah manusia
Jadi : Malaikat akan mati
Disini konklusinya salah,sebab itu premis atau kedua-duanyanya juga salah
3. Apabila premis salah ,konklusi dapat benar atau salah
Contoh:
Malaikat itu benda fisik
Batu itu malaikat
Jadi: batu itu benda fisik
Disini kedua preminya salah ,tetapi konklusinya benar
4. Apbila konklusi benar,premis dapat benar dapat pula salah
Contoh : lihat contoh konklusi benar ,premis benar
Lihat contoh pada hukum poertama
KESESATAN (fallacy)
Tugas logika adalah menyiapkan sarana untuk melakukann penalaran yang sahih dan benar. Dalam kenyataan, baik dalam kehidupan akademis maupun pergaulan sehari-hari, sering sekali terjadi penalaran yang tidak sahih. Penalaran yang tidah sahih maupun tidak tepat itulah yang dinamakan penalaran yang sesat.atau disingkat dengan kesesatan atau fallacy.
Perlu dibedakan antara paralogis dan sofisme .paralogis adalah kesesatan yang tidak disadari (tidak disengaja),dan terjadi karena pembicara kurang memahami hukum-hukum penalaran atau keterbatasan lainya. Disini orang mengemukakan penalaran yang sesat tapi dia tidak menyadari.sebaliknya ,orang yang dengan sengaja melakukan kesesatan dengan tujuan tertentu itu dianamakan sofis. Seorang sofis memiliki dasar-dasar logika dan argumentasi yang kuat dan oleh sebab itu bisa menjebak lawan bicara dengan mudah. Jadi, dengan sengaja mengemukakan panalaran sesat untuk kepentinganya sendiri.
Kesesatan dapat terjadi karena bahasa(semantik) dan relevansi antara premis dan konklusi. Berikut penjelasan tenteng kedua macam kesesatan tersebut .
Kesesatan karena bahasa (semantik)
Kesesatan ini dibedakan oleh ambiguitas arti kata yang dugunakan(homonym). Atau juga karena kesalahan kalimat yang digunakan perpeluang untuk ditafsirkan berbeda-beda.
Kesesatan karena term ekuivok
Kata yang digunakan mempunyai arti lebih dari satu, sehingga penafsifsiranya juga berbeda.
Contoh :
Malang itu kota yang indah
Orang miskin bernasib malang
Jadi: Orang miskin bernasib indah
Bulan bersinar dilangit
Bulan itu 30 hari
Jadi: 30 hari bersinar di langit
Kesesatan amfiboli
Kesesatan ini terjadi karena struktur kalimat dibuat sedemikian sehingga dapat ditafsirkan ganda.
Contoh:
(dari iklan media masa)”Dijual segera: kursi tinggi untuk bayi dengan kaki patah
Tanggal 17 agustus 1998 dirayakan HUT proklamasi kemerdekaan RI ke 63
Kesesatan komposisi
Kesesatan ini terjadi karena pencampuran term yang bersifat kolektif dan distributive
Contoh:
”Sebuah sekolah terdiiri dari bangunan tempat belajar, laboratorium. Dan sebuah ruangan umtuk olahraga yang mempunyai luas 800 meter persegi.
Kata “ luas” bisa diterapkan untuk seluruh sekolahan itu seluruhnya 800 m2 atau setiap bagian luasnya 800 meter persegi sehingga luasnya 2400 m2.
Kesesatan dalam pembagian
Kesesatan ini terjadi karena anggapan bahwa apa yang benar bagi keseluruhan, berlaku bagi individu. Jadi, ini terbalik dari kesesatan komposisi.
Contoh:
Semua gadis Bali panda menari
Ni made swasti adalah gadis Bali
Jadi: Ni made swasti pandai menari
Semua orang jawa ramah tamah
Mas Gunawan orang jawa
Jadi: Mas Gunawan ramah tamah
Semua mahasiswa Gunadarma proreformasi
Yuli adalan mahasiswa Gunadarma
Jadi: Yuli proreformasi
Kesesatan aksentuasi
Kesesatan terjadi karena aksen bicarara.aksen berbeda menyebabkan perbedaan penafsiran pula.
Contoh:
Sesama teman harus saling menolong
Di sini,ada dua kemungkinan penafsiran apapun yang terjadi seorang teman harus
Ditolong(termasuk mengerjakan ujian,menyembunyikannya dari kejaran polisi),atau
yang ditolong hanya teman.yang bukan teman tidak harus ditolong.
5.2.kesesatan karena relevansi
Kesesatan ini terjadi karena orang menurunkan konklusi yang tidak punya relevansi
Dengan premis. Jadi,tidak ada hubungan logis antara konklusi dan premis. berikut
Beberapa jenis kesesatan relevansi yang paling umum dikenal.
5.2.1 Argumentum ad hominem
Kata bahasa latin ini berrti arguamen yang di tujukan kepada orangnya.kesesatan terjadi
Karena orang menerima atau menolak suatu argumentasi bukan karena alasan logis,tetapi
Pamrih orang yang berbicara atau lawan bicaranya.
Contoh:
Disebuah sidang pengadilan jaksa penuntut umum tidak memberikan bukti-bukti secukupnya tentang kesalahan terdakwa, dtapi membeberkan sejarah hidup terdakwa yang penuh dengan kebijakan. Dengan demikian diharapkan akan mempengaruhi keputusan hakim.
Disebuah sidak terdakwa tidak mengemukakan argument logis tentang kejahatan yang ditiduhkan kepadanya ,tetapi mengatakan bahwa penderitaan yang ditimpakan hakim kepadanya akan berbalik menimpa hakim dan keluarganya.
Argumentum of verecundian
Kesesatan ini disebut juga kesesatan actuoriis. Kesesatan terjadi bukan karena penalaran logis ,tetapi orang yang mengemukakanya adalah orang yang berwibawa dan dapat dipercaya(misal: karena kepakaranya). Ini bermakna sama dengan peribahasa bahasa latin:tantum valet actuoritis, quantum velet argumentio(nilai argumentasi tergantung dari nilai wibawa).
Argumentum ad baculum
Dalam bahasa latin berarti tongkat pemukul. Kesesatan ini terjadi bila orang menolak atau menerima suat argument bukan atas dasar penalaran logis,melainkan karena ancaman atau terror. Jadi orang menerima sesuatu karena takut.
Argumentum ad misericordiam
Argument ini dimaksudkan untuk menggugah belas kasihan.
Argumentum ad papulum
Artinya “yang ditujukan kepada rakyat”. Yang penting disini bukan pembuktian rasional melainkan pernyataan yang membangkitkan emosi massa. Biasanya digunakan oleh para juru kampannnnye polotik,demogogi,atau kegiatan propaganda.
Post hoc propter hoc
Nama lainya adalah non cause pro cause. Kesesatan terjad karena orang mengangagap sesuatu sebagai sebab,padahal bukan. Pasa suatu urutan peristiwa,orang menunjuk apa yang ter jadi lebih dulu sebagai penyebab peristiwa yang ter jasi sesudahnya,padahal bukan.
Contoh
Matahari terbit sesudah ayam berkokok
Pertitio principi (beginning the question)
Terjadi karena orang tidak membuktikan sesuatu yang harus dibuktikan.
Contoh
Seorang guru bertanya kepada muridnya, mengapa lampu diruangan tiba-tiba mati. Dan siswa menjawab karena lampu tidak menyala.
Penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran,dan sebab itu lebih sulit disbanding pengertian dan proposisi. Secara sederhana penalaran dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proposisi-proposisi yang mendahuluinya.
Contoh:
Logam 1 dipanasi dan memuai
Logam 2 dipanasi dan memuai
Logam 3 dipanasi dan memuai
Logam 4 dipanasi dan memuai
Logam 5 dipanasi dan memuai
Dan seterusnya
Jadi : semua logam yang dipanasi memuai
Konklusi dan premis
Dari contoh diatas,dapat dikatakan bahwa penalaran ialah gerak pemikikiran dari proposisi 1 dan seterusnya,hingga proposisi terakhir(=kesimpulan). Jadi penalaran suatu proses pikiran. Sebuah penalaran terdiri atas:premis dan kesimpulan. Premis mayor dan premis minor.
Penalaran deduktif dan induktif
Biasanya dibadakan menjadi dua maccam penalaran, konklusi lebih sempit dari premis. Pada penalaran induktif, konklusi lebih luas dari premis.
Contoh penalaran deduktif:
Semua manusia akan mati (premis mayor)
Bambang adalah manusia (premis minor)
Jadi: bambang akan mati (konklusi)
Contoh penalaran induktif
Logam 1 memuai kalau dipanaskan (mayor mayor)
Logam 2 memuai kalau dipanaskan (premis minor)
Semua logam memuai kalau dipanaskan (konklusi)
Hukum-hukum penalaran
Perlu dipahami bahwa”yang benar” tidak tidak sama dengan yang logis. Yang benar benar adalah suatu proposisi. Sebuah proposisi itu benar kalau ada kesesuaian antara subyek dan predikat. Yang logis adalah penalaran. Suatu penalaran dikatakan logis kalau mempunyai bentuk yang tepat, da sebab itu penalaran itu sahih. Maka hubungan kebenaran antara premis dan konklusi dapat dirumuskan dalam hukum-hukum penalaran sebagai berikut:
1. Apabila premis benar,konklusi benar
Contoh:
Semua manusia akan mati
Ali adalah manusia
Jadi: Ali akan mati
Disini premis mayor dan minor benar.oleh karena itu konklusinya juga benar.
2. Konklusi salah ,premis juga salah
Contoh:
Semua manusia akan mati
Malaikat adalah manusia
Jadi : Malaikat akan mati
Disini konklusinya salah,sebab itu premis atau kedua-duanyanya juga salah
3. Apabila premis salah ,konklusi dapat benar atau salah
Contoh:
Malaikat itu benda fisik
Batu itu malaikat
Jadi: batu itu benda fisik
Disini kedua preminya salah ,tetapi konklusinya benar
4. Apbila konklusi benar,premis dapat benar dapat pula salah
Contoh : lihat contoh konklusi benar ,premis benar
Lihat contoh pada hukum poertama
KESESATAN (fallacy)
Tugas logika adalah menyiapkan sarana untuk melakukann penalaran yang sahih dan benar. Dalam kenyataan, baik dalam kehidupan akademis maupun pergaulan sehari-hari, sering sekali terjadi penalaran yang tidak sahih. Penalaran yang tidah sahih maupun tidak tepat itulah yang dinamakan penalaran yang sesat.atau disingkat dengan kesesatan atau fallacy.
Perlu dibedakan antara paralogis dan sofisme .paralogis adalah kesesatan yang tidak disadari (tidak disengaja),dan terjadi karena pembicara kurang memahami hukum-hukum penalaran atau keterbatasan lainya. Disini orang mengemukakan penalaran yang sesat tapi dia tidak menyadari.sebaliknya ,orang yang dengan sengaja melakukan kesesatan dengan tujuan tertentu itu dianamakan sofis. Seorang sofis memiliki dasar-dasar logika dan argumentasi yang kuat dan oleh sebab itu bisa menjebak lawan bicara dengan mudah. Jadi, dengan sengaja mengemukakan panalaran sesat untuk kepentinganya sendiri.
Kesesatan dapat terjadi karena bahasa(semantik) dan relevansi antara premis dan konklusi. Berikut penjelasan tenteng kedua macam kesesatan tersebut .
Kesesatan karena bahasa (semantik)
Kesesatan ini dibedakan oleh ambiguitas arti kata yang dugunakan(homonym). Atau juga karena kesalahan kalimat yang digunakan perpeluang untuk ditafsirkan berbeda-beda.
Kesesatan karena term ekuivok
Kata yang digunakan mempunyai arti lebih dari satu, sehingga penafsifsiranya juga berbeda.
Contoh :
Malang itu kota yang indah
Orang miskin bernasib malang
Jadi: Orang miskin bernasib indah
Bulan bersinar dilangit
Bulan itu 30 hari
Jadi: 30 hari bersinar di langit
Kesesatan amfiboli
Kesesatan ini terjadi karena struktur kalimat dibuat sedemikian sehingga dapat ditafsirkan ganda.
Contoh:
(dari iklan media masa)”Dijual segera: kursi tinggi untuk bayi dengan kaki patah
Tanggal 17 agustus 1998 dirayakan HUT proklamasi kemerdekaan RI ke 63
Kesesatan komposisi
Kesesatan ini terjadi karena pencampuran term yang bersifat kolektif dan distributive
Contoh:
”Sebuah sekolah terdiiri dari bangunan tempat belajar, laboratorium. Dan sebuah ruangan umtuk olahraga yang mempunyai luas 800 meter persegi.
Kata “ luas” bisa diterapkan untuk seluruh sekolahan itu seluruhnya 800 m2 atau setiap bagian luasnya 800 meter persegi sehingga luasnya 2400 m2.
Kesesatan dalam pembagian
Kesesatan ini terjadi karena anggapan bahwa apa yang benar bagi keseluruhan, berlaku bagi individu. Jadi, ini terbalik dari kesesatan komposisi.
Contoh:
Semua gadis Bali panda menari
Ni made swasti adalah gadis Bali
Jadi: Ni made swasti pandai menari
Semua orang jawa ramah tamah
Mas Gunawan orang jawa
Jadi: Mas Gunawan ramah tamah
Semua mahasiswa Gunadarma proreformasi
Yuli adalan mahasiswa Gunadarma
Jadi: Yuli proreformasi
Kesesatan aksentuasi
Kesesatan terjadi karena aksen bicarara.aksen berbeda menyebabkan perbedaan penafsiran pula.
Contoh:
Sesama teman harus saling menolong
Di sini,ada dua kemungkinan penafsiran apapun yang terjadi seorang teman harus
Ditolong(termasuk mengerjakan ujian,menyembunyikannya dari kejaran polisi),atau
yang ditolong hanya teman.yang bukan teman tidak harus ditolong.
5.2.kesesatan karena relevansi
Kesesatan ini terjadi karena orang menurunkan konklusi yang tidak punya relevansi
Dengan premis. Jadi,tidak ada hubungan logis antara konklusi dan premis. berikut
Beberapa jenis kesesatan relevansi yang paling umum dikenal.
5.2.1 Argumentum ad hominem
Kata bahasa latin ini berrti arguamen yang di tujukan kepada orangnya.kesesatan terjadi
Karena orang menerima atau menolak suatu argumentasi bukan karena alasan logis,tetapi
Pamrih orang yang berbicara atau lawan bicaranya.
Contoh:
Disebuah sidang pengadilan jaksa penuntut umum tidak memberikan bukti-bukti secukupnya tentang kesalahan terdakwa, dtapi membeberkan sejarah hidup terdakwa yang penuh dengan kebijakan. Dengan demikian diharapkan akan mempengaruhi keputusan hakim.
Disebuah sidak terdakwa tidak mengemukakan argument logis tentang kejahatan yang ditiduhkan kepadanya ,tetapi mengatakan bahwa penderitaan yang ditimpakan hakim kepadanya akan berbalik menimpa hakim dan keluarganya.
Argumentum of verecundian
Kesesatan ini disebut juga kesesatan actuoriis. Kesesatan terjadi bukan karena penalaran logis ,tetapi orang yang mengemukakanya adalah orang yang berwibawa dan dapat dipercaya(misal: karena kepakaranya). Ini bermakna sama dengan peribahasa bahasa latin:tantum valet actuoritis, quantum velet argumentio(nilai argumentasi tergantung dari nilai wibawa).
Argumentum ad baculum
Dalam bahasa latin berarti tongkat pemukul. Kesesatan ini terjadi bila orang menolak atau menerima suat argument bukan atas dasar penalaran logis,melainkan karena ancaman atau terror. Jadi orang menerima sesuatu karena takut.
Argumentum ad misericordiam
Argument ini dimaksudkan untuk menggugah belas kasihan.
Argumentum ad papulum
Artinya “yang ditujukan kepada rakyat”. Yang penting disini bukan pembuktian rasional melainkan pernyataan yang membangkitkan emosi massa. Biasanya digunakan oleh para juru kampannnnye polotik,demogogi,atau kegiatan propaganda.
Post hoc propter hoc
Nama lainya adalah non cause pro cause. Kesesatan terjad karena orang mengangagap sesuatu sebagai sebab,padahal bukan. Pasa suatu urutan peristiwa,orang menunjuk apa yang ter jadi lebih dulu sebagai penyebab peristiwa yang ter jasi sesudahnya,padahal bukan.
Contoh
Matahari terbit sesudah ayam berkokok
Pertitio principi (beginning the question)
Terjadi karena orang tidak membuktikan sesuatu yang harus dibuktikan.
Contoh
Seorang guru bertanya kepada muridnya, mengapa lampu diruangan tiba-tiba mati. Dan siswa menjawab karena lampu tidak menyala.
Sabtu, 11 Desember 2010
Faktor utama yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen
FAKTOR UTAMA YANG MEMPENGARUHI PERILAKU
PEMBELIAN KONSUMEN
Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan melayani kebutuhan dan keinginan konsumen sasaran. Pasar konsumen dan perilaku pembelian konsumen harus dipahami sebelum rencana pemasaran yang nyata dapat dikembangkan. Pasar konsumen membeli barang & jasa untuk konsumsi pribadi, dan ini adalah pasar yang paling akhir dimana kegiatan perekonomian diatur
Pasar Konsumen
Semua individu dan rumah tangga yang membeli atau mendapatkan barang atau jasa untuk konsumsi pribadi.
Perilaku Pembelian Konsumen
Perilaku pembelian Konsumen akhir ( individu dan rumah tangga ) yang membeli barang atau jasa untuk konsumsi pribadi.
Model Perilaku Konsumen
Pemasaran dan Rangsangan lain
---------------------------
Pemasaran-- Lainnya
Produk Ekonomi
Harga Teknologi
Tempat Politik
Promosi Budaya
Kotak Hitam Pembel
Karakteristik Pembeli
Proses Pengambilan Keputusan Pembeli
Tanggapan Pembeli
Pilihan Produk
Pilihan merk
Pilihan dealer
Pilihan waktu membeli
Juml;ah Pembelian
Pemasar ingin memahami bagaimana rangsangan itu diubah menjadi tanggapan dalam kotak hitam konsumen yang terdiri dari 2 bagian :
1. Karakteristik pembeli mempengaruhi bagaimana dia mempersepsikan dan bereaksi terhadap rangsangan.
2. Proses pengambilan keputusan pembelian itu sendiri mempengaruhi perilaku pembeli.
KARAKTERISTIK YANG MEMPENGARUHI
PERILAKU KONSUMEN.
1. Faktor-faktor Budaya
Faktor budaya mempunyai pengaruh paling meluas dan mendalam terhadap perilaku konsumen.
a. Budaya : Serangkaian nilai, persepsi, keinginan, dan perilaku dasar yang dipelajari oleh anggota masyarakat dari keluarga dan instansi penting lain.Kultur merupakan determinan paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang
Contoh : kebudayaan masyarakat jawa dan makasar yang berbeda membuat kebutuhan mereka pun berbeda satu sama lain.
b. Sub-budaya : kelompok orang yang memiliki sistem nilai yang sama berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang serupa.Sub-kultur mencakup kebangsaan, agama, ras, daerah geografis
Contoh : ketika bulan Ranadhan masyarakat Indonesia cenderung konsumsi tinggi pada produk makanan dan minuman dan hal ini membuat promosi makanan dan minuman gencar dilakukan pada bulan Ramadhan.
c. Kelas Sosial : Pembagian kelompok masyarakat yang relatif permanen dan relatif teratur dimana anggota memiliki nilai, minat dan perilaku yang serupa.Kelas sosial adalah bagian-bagian yang relatif homogen dan tetap dalam suatu masyarakat yang tersusun secara hirarkis dan anggota-anggotanya memiliki tata nilai, minat dan perilaku yang mirip (stratifikasi/sistem kasta)
Contoh : golongan atas, golongan menengah, golongan rendah dalam suatu masysarakat.
2. Faktor-faktor Sosial.
a. Kelompok : Dua atau lebih sekelompok orang yang berinteraksi untuk memenuhi tujuan individu atau tujuan bersama.
b. Keluarga.
Contoh : keluarga satu anak, keluaraga dua anak, keluarga tiga anak dan lain sebagainya.
c. Peran dan Status. ( Peran terdiri dari sejumlah aktivitas yang diharapkan untuk dilakukan menurut orang-orang di sekitarnya, Tiap peran membawa status yang mengambarkan penghargaan umum terhadap peran tersebut oleh masyarakat. Contoh :pemimpin masyarakat, pendidik,golongan elite,golongan,menengah, golongan rendah.
3. Faktor-faktor Pribadi
a. Umur dan Tata Siklus Hidup,
Contoh : kebutuhan anak balita dengan orang dewasa yang berbeda.
b. Pekerjaan.
pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pola konsumsinya. Para pemasar berusaha untuk mengidentifikasikan kelompok pekerjaan yang mempunyai minat lebih dari rata-rata pada produk dan jasa mereka.
Contoh : orang kantoran ,tukang becak,dan lain sebagainya
c. Situasi Ekonomi.
Situasi ekonomi, meliputi pendapatan yang dapat dibelanjakan, tabungan dan kekayaan, hutang, kekuatan untuk meminjam, pendirian terhadap belanja dan menabung.
Contoh : perekonomian yang baik akan membuat konsumsi meningkat, tetapi sebaliknya ketika ekonomi sedang krisis masyarakat cenderu\ng untuk menabung uangnya.
d. Gaya Hidup : Pola hidup seseorang yang tergambarkan pada aktivitas, interest, dan opinion ( AIO ) orang tersebut. Merupakan pola hidup seseorang di dunia yang diungkapkan dalam kegiatan, minat dan pendapata seseorang
Contoh : modern, tradisional, kuno, boros, mewah dan sebagainya.
e. Kepribadian dan Konsep Diri. ( Kepribadian, sikologis yang membedakan seseorang yang menghasilkan tanggapan secara konsisten dan terus-menerus terhadap lingkungan. Konsep Diri, adalah kepemilikan seseorang dapat menyumbang dan mencerminkan ke identitas diri mereka ). Karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan tetap terhadap lingkungannya
4. Faktor-faktor Psikologis
a. Motivasi, kebutuhan yang mendorong seseorang secara kuat mencari kepuasan atas kebutuhan tersebut.
Contoh : keinginan para pecendu narkoba untuk mengkonsumsi nutriment lebih tinggi dibandingkan dengan konsumen lain pada umumnya
b. Persepsi, Proses menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti tentang dunia.
Contoh : pandangan seorang konsumen akan sebuah produk
c. Pembelajaran, perubahan perilaku seseorang karena pengalaman.
Contoh : pembelajaran mengenai suatu produk yang akan atau sudah dibeli konsumen
d. Keyakinan dan Sikap, ( keyakinan = pemikiran deskriptif yang dipertahankan seseorang mengenai sesuatu. Sikap merupakan evaluasi, perasaan dan kecenderungan yang konsisten atas suka atau tidak seseorang terhadap suatu obyek atau ide ).
Contoh : niat untuk membeli ( kemampuan untuk membeli )
TIPE PERILAKU PEMBELIAN KONSUMEN
# Perilaku Pembelian Kompleks
Perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang bercirikan adanya keterlibatan konsumen yang sangat tinggi dalam membeli dan adanya persepsi yang signifikan mengenai perbedaan diantara merek.
# Perilaku Pembelian Pengurangan Disonansi.
Perilaku pembelian dalam situasi dimana pembeli mempunyai keterlibatan yang tinggi tetapi melihat hanya sedikit perbedaan antar merek.
# Perilaku Pembelian Kebiasaan
Suatu situasi dimana konsumen mempunyai keterlibatan rendah dan perbedaan yang tidak jauh antar merek.
# Perilaku Pembelian Pencarian Variasi.
Perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana konsumen mempunyai tingkat keterlibatan yang rendah tetapi mempersepsikan adanya perbedaan merek yang signifikan.
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Pengenalan Kebutuhan, Tahap dimana konsumen mengenali permasalahan atau kebutuhan. Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenal suatu masalah atau kebutuhan
Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, pemasar dapat mengidentifikasikan dorongan yang paling sering menimbulkan suatu minat pada suatu kategori produk tertentu, sehingga pemasar dapat mengembangkan strategi-strategi pemasaran yang memicu minat konsumen
2. Pencarian Informasi, tahap dimana konsumen tergerak untuk mencari informasi tambahan, konsumen mungkin sekedar meningkatkan perhatian atau mungkin pula mencari informasi secara aktif. Seorang konsumen yang tergerak oleh dorongan akan berusaha untuk mencari lebih banyak informasi. Perhatian utama pemasar adalah sumber informasi utama yang akan dicari konsumen dan kepentingan relatifnya terhadap keputusan pembelian sesudahnya
3. Pengevaluasi Alternatif, tahap dimana konsumen mengunakan informasi untuk mengevaluasi berbagai merek alternatif di dalam serangkaian pilihan. Bagaimana konsumen memproses informasi mengenai merk yang bersaing dan membuat pertimbangan nilai yang terakhir ? Konsumen memandang setiap produk sebagai rangkaian atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang dicari dan memuaskan kebutuhannyaProses evaluasi konsumen berorientasi secara kognitif yaitu mereka melihat konsumen dalam membuat pertimbangan produk sebagian besar secara sadar dan rasional
4. Keputusan Pembelian, tahap dimana konsumen secara actual melakukan pembelian produk.
5. Perilaku Setelah Pembelian, tahap dinama konsumen melakukan tindakan lebih lanjut setelah pembelian berdasarkan pada keputusan atau ketidakpuasan mereka.Setelah pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidak-puasan.Kepuasan pembeli merupakan fungsi dari seberapa dekat antara harapan pembeli atas produk tersebut dengan daya guna yang dirasakan dari produk tersebutPerasaan-perasaan ini mempunyai arti dalam hal apakah pelanggan tersebut akan membeli produk itu lagi dan membicarakan tentang produk tersebut kepada orang lain secara merugikan atau menguntungkan.
PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK BARU
Produk Baru
Barang, Jasa atau Ide yang dianggap oleh sebagian calon konsumen sebagai hal yang baru.
Proses Adopsi
Proses mental yang dijalani oleh individu melewati dari pertama mempelajari inovasi tertentu hingga ke adaopsi akhir.
Tahap-tahap Proses Adopsi
1. Kesadaran (awareness), konsumen tahu akan produk baru tetapi kekurangan informasi tentangnya.
2. Ketertarikan (interest), konsumen mencari informasi tentang produk baru tersebut.
3. Pengevaluasian (evaluation), konsumen mempertimbang kan apakah mencoba produk baru adalah masuk akal.
4. Percobaan (trial), konsumen mencoba produk dalam skala yang kecil untuk meningkakan perkiraan besarnya nilai produk tersebut.
5. Pengadopsian ( adoption), konsumen menentukan apakah akan menjadi pemakai tetap atau tidak dari produk baru tersebut.
Pengaruh Karakteristik Produk terhadap Tingkat Pengadopsian.
1. Keunggulan relatif
Tingkat yang menunjukan keunggulan inovasi terhadap produk yang telah ada.
2. Kompatibilitas.
Tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai dan pengalaman calon konsumen.
3. Kompleksitas.
Tingkat kesulitan inovasi untuk dimengerti atau digunakan.
4. Divisibilitas.
Tingkat inovasi dapat dicoba sedikit demi sedikit.
5. Komunikabilitas.
Tingkat kemampuan hasil penggunaan inovasi dapat diobservasi atau dijelaskan kepada orang lain.
Dalam menganalisis suatu pasar konsumen, seseorang perlu mengetahui tentang penduduk, obyek, tujuan pembeli, organisasi, operasi, peristiwa, dan tempat penjualan.
DAFTAR PUSTAKA
Pujangkoro, Sugih Arto,Makroekonomi: perilaku pembelian konsumen. Yogyakarta:Absolut,
1996.
Rahardja, pratama dan Maznurung, Mandala,Pengantar Ilmu ekonomi (Mikroekonomi dan makroekonimi ). Jakarta:LP FEUI 2008.
PEMBELIAN KONSUMEN
Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan melayani kebutuhan dan keinginan konsumen sasaran. Pasar konsumen dan perilaku pembelian konsumen harus dipahami sebelum rencana pemasaran yang nyata dapat dikembangkan. Pasar konsumen membeli barang & jasa untuk konsumsi pribadi, dan ini adalah pasar yang paling akhir dimana kegiatan perekonomian diatur
Pasar Konsumen
Semua individu dan rumah tangga yang membeli atau mendapatkan barang atau jasa untuk konsumsi pribadi.
Perilaku Pembelian Konsumen
Perilaku pembelian Konsumen akhir ( individu dan rumah tangga ) yang membeli barang atau jasa untuk konsumsi pribadi.
Model Perilaku Konsumen
Pemasaran dan Rangsangan lain
---------------------------
Pemasaran-- Lainnya
Produk Ekonomi
Harga Teknologi
Tempat Politik
Promosi Budaya
Kotak Hitam Pembel
Karakteristik Pembeli
Proses Pengambilan Keputusan Pembeli
Tanggapan Pembeli
Pilihan Produk
Pilihan merk
Pilihan dealer
Pilihan waktu membeli
Juml;ah Pembelian
Pemasar ingin memahami bagaimana rangsangan itu diubah menjadi tanggapan dalam kotak hitam konsumen yang terdiri dari 2 bagian :
1. Karakteristik pembeli mempengaruhi bagaimana dia mempersepsikan dan bereaksi terhadap rangsangan.
2. Proses pengambilan keputusan pembelian itu sendiri mempengaruhi perilaku pembeli.
KARAKTERISTIK YANG MEMPENGARUHI
PERILAKU KONSUMEN.
1. Faktor-faktor Budaya
Faktor budaya mempunyai pengaruh paling meluas dan mendalam terhadap perilaku konsumen.
a. Budaya : Serangkaian nilai, persepsi, keinginan, dan perilaku dasar yang dipelajari oleh anggota masyarakat dari keluarga dan instansi penting lain.Kultur merupakan determinan paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang
Contoh : kebudayaan masyarakat jawa dan makasar yang berbeda membuat kebutuhan mereka pun berbeda satu sama lain.
b. Sub-budaya : kelompok orang yang memiliki sistem nilai yang sama berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang serupa.Sub-kultur mencakup kebangsaan, agama, ras, daerah geografis
Contoh : ketika bulan Ranadhan masyarakat Indonesia cenderung konsumsi tinggi pada produk makanan dan minuman dan hal ini membuat promosi makanan dan minuman gencar dilakukan pada bulan Ramadhan.
c. Kelas Sosial : Pembagian kelompok masyarakat yang relatif permanen dan relatif teratur dimana anggota memiliki nilai, minat dan perilaku yang serupa.Kelas sosial adalah bagian-bagian yang relatif homogen dan tetap dalam suatu masyarakat yang tersusun secara hirarkis dan anggota-anggotanya memiliki tata nilai, minat dan perilaku yang mirip (stratifikasi/sistem kasta)
Contoh : golongan atas, golongan menengah, golongan rendah dalam suatu masysarakat.
2. Faktor-faktor Sosial.
a. Kelompok : Dua atau lebih sekelompok orang yang berinteraksi untuk memenuhi tujuan individu atau tujuan bersama.
b. Keluarga.
Contoh : keluarga satu anak, keluaraga dua anak, keluarga tiga anak dan lain sebagainya.
c. Peran dan Status. ( Peran terdiri dari sejumlah aktivitas yang diharapkan untuk dilakukan menurut orang-orang di sekitarnya, Tiap peran membawa status yang mengambarkan penghargaan umum terhadap peran tersebut oleh masyarakat. Contoh :pemimpin masyarakat, pendidik,golongan elite,golongan,menengah, golongan rendah.
3. Faktor-faktor Pribadi
a. Umur dan Tata Siklus Hidup,
Contoh : kebutuhan anak balita dengan orang dewasa yang berbeda.
b. Pekerjaan.
pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pola konsumsinya. Para pemasar berusaha untuk mengidentifikasikan kelompok pekerjaan yang mempunyai minat lebih dari rata-rata pada produk dan jasa mereka.
Contoh : orang kantoran ,tukang becak,dan lain sebagainya
c. Situasi Ekonomi.
Situasi ekonomi, meliputi pendapatan yang dapat dibelanjakan, tabungan dan kekayaan, hutang, kekuatan untuk meminjam, pendirian terhadap belanja dan menabung.
Contoh : perekonomian yang baik akan membuat konsumsi meningkat, tetapi sebaliknya ketika ekonomi sedang krisis masyarakat cenderu\ng untuk menabung uangnya.
d. Gaya Hidup : Pola hidup seseorang yang tergambarkan pada aktivitas, interest, dan opinion ( AIO ) orang tersebut. Merupakan pola hidup seseorang di dunia yang diungkapkan dalam kegiatan, minat dan pendapata seseorang
Contoh : modern, tradisional, kuno, boros, mewah dan sebagainya.
e. Kepribadian dan Konsep Diri. ( Kepribadian, sikologis yang membedakan seseorang yang menghasilkan tanggapan secara konsisten dan terus-menerus terhadap lingkungan. Konsep Diri, adalah kepemilikan seseorang dapat menyumbang dan mencerminkan ke identitas diri mereka ). Karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan tetap terhadap lingkungannya
4. Faktor-faktor Psikologis
a. Motivasi, kebutuhan yang mendorong seseorang secara kuat mencari kepuasan atas kebutuhan tersebut.
Contoh : keinginan para pecendu narkoba untuk mengkonsumsi nutriment lebih tinggi dibandingkan dengan konsumen lain pada umumnya
b. Persepsi, Proses menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti tentang dunia.
Contoh : pandangan seorang konsumen akan sebuah produk
c. Pembelajaran, perubahan perilaku seseorang karena pengalaman.
Contoh : pembelajaran mengenai suatu produk yang akan atau sudah dibeli konsumen
d. Keyakinan dan Sikap, ( keyakinan = pemikiran deskriptif yang dipertahankan seseorang mengenai sesuatu. Sikap merupakan evaluasi, perasaan dan kecenderungan yang konsisten atas suka atau tidak seseorang terhadap suatu obyek atau ide ).
Contoh : niat untuk membeli ( kemampuan untuk membeli )
TIPE PERILAKU PEMBELIAN KONSUMEN
# Perilaku Pembelian Kompleks
Perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang bercirikan adanya keterlibatan konsumen yang sangat tinggi dalam membeli dan adanya persepsi yang signifikan mengenai perbedaan diantara merek.
# Perilaku Pembelian Pengurangan Disonansi.
Perilaku pembelian dalam situasi dimana pembeli mempunyai keterlibatan yang tinggi tetapi melihat hanya sedikit perbedaan antar merek.
# Perilaku Pembelian Kebiasaan
Suatu situasi dimana konsumen mempunyai keterlibatan rendah dan perbedaan yang tidak jauh antar merek.
# Perilaku Pembelian Pencarian Variasi.
Perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana konsumen mempunyai tingkat keterlibatan yang rendah tetapi mempersepsikan adanya perbedaan merek yang signifikan.
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Pengenalan Kebutuhan, Tahap dimana konsumen mengenali permasalahan atau kebutuhan. Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenal suatu masalah atau kebutuhan
Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, pemasar dapat mengidentifikasikan dorongan yang paling sering menimbulkan suatu minat pada suatu kategori produk tertentu, sehingga pemasar dapat mengembangkan strategi-strategi pemasaran yang memicu minat konsumen
2. Pencarian Informasi, tahap dimana konsumen tergerak untuk mencari informasi tambahan, konsumen mungkin sekedar meningkatkan perhatian atau mungkin pula mencari informasi secara aktif. Seorang konsumen yang tergerak oleh dorongan akan berusaha untuk mencari lebih banyak informasi. Perhatian utama pemasar adalah sumber informasi utama yang akan dicari konsumen dan kepentingan relatifnya terhadap keputusan pembelian sesudahnya
3. Pengevaluasi Alternatif, tahap dimana konsumen mengunakan informasi untuk mengevaluasi berbagai merek alternatif di dalam serangkaian pilihan. Bagaimana konsumen memproses informasi mengenai merk yang bersaing dan membuat pertimbangan nilai yang terakhir ? Konsumen memandang setiap produk sebagai rangkaian atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang dicari dan memuaskan kebutuhannyaProses evaluasi konsumen berorientasi secara kognitif yaitu mereka melihat konsumen dalam membuat pertimbangan produk sebagian besar secara sadar dan rasional
4. Keputusan Pembelian, tahap dimana konsumen secara actual melakukan pembelian produk.
5. Perilaku Setelah Pembelian, tahap dinama konsumen melakukan tindakan lebih lanjut setelah pembelian berdasarkan pada keputusan atau ketidakpuasan mereka.Setelah pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidak-puasan.Kepuasan pembeli merupakan fungsi dari seberapa dekat antara harapan pembeli atas produk tersebut dengan daya guna yang dirasakan dari produk tersebutPerasaan-perasaan ini mempunyai arti dalam hal apakah pelanggan tersebut akan membeli produk itu lagi dan membicarakan tentang produk tersebut kepada orang lain secara merugikan atau menguntungkan.
PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK BARU
Produk Baru
Barang, Jasa atau Ide yang dianggap oleh sebagian calon konsumen sebagai hal yang baru.
Proses Adopsi
Proses mental yang dijalani oleh individu melewati dari pertama mempelajari inovasi tertentu hingga ke adaopsi akhir.
Tahap-tahap Proses Adopsi
1. Kesadaran (awareness), konsumen tahu akan produk baru tetapi kekurangan informasi tentangnya.
2. Ketertarikan (interest), konsumen mencari informasi tentang produk baru tersebut.
3. Pengevaluasian (evaluation), konsumen mempertimbang kan apakah mencoba produk baru adalah masuk akal.
4. Percobaan (trial), konsumen mencoba produk dalam skala yang kecil untuk meningkakan perkiraan besarnya nilai produk tersebut.
5. Pengadopsian ( adoption), konsumen menentukan apakah akan menjadi pemakai tetap atau tidak dari produk baru tersebut.
Pengaruh Karakteristik Produk terhadap Tingkat Pengadopsian.
1. Keunggulan relatif
Tingkat yang menunjukan keunggulan inovasi terhadap produk yang telah ada.
2. Kompatibilitas.
Tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai dan pengalaman calon konsumen.
3. Kompleksitas.
Tingkat kesulitan inovasi untuk dimengerti atau digunakan.
4. Divisibilitas.
Tingkat inovasi dapat dicoba sedikit demi sedikit.
5. Komunikabilitas.
Tingkat kemampuan hasil penggunaan inovasi dapat diobservasi atau dijelaskan kepada orang lain.
Dalam menganalisis suatu pasar konsumen, seseorang perlu mengetahui tentang penduduk, obyek, tujuan pembeli, organisasi, operasi, peristiwa, dan tempat penjualan.
DAFTAR PUSTAKA
Pujangkoro, Sugih Arto,Makroekonomi: perilaku pembelian konsumen. Yogyakarta:Absolut,
1996.
Rahardja, pratama dan Maznurung, Mandala,Pengantar Ilmu ekonomi (Mikroekonomi dan makroekonimi ). Jakarta:LP FEUI 2008.
Senin, 25 Oktober 2010
PERILAKU KONSUMEN
Teori perilaku konsumen
1. Pengertian dan asumsi-asumsi utama
Tujuan yang ingin dicapai konsumen adalah kepuasan maksimum.
a. Barang (commodities)
Barang adalah benda dan jasa yang dikonsumsi untuk memperoleh manfaat atau kegunaan. Bila seseorang mengkonsumsi lebih dari satu barang dan jasa, seluruhnya digabungkan dalam satu bundle barang ( commodities bundle). Barang yang dikonsumsi mempunyai sifat makin banyak dikonsumsi makin besar manfaat yang diperoleh. Contohnya : pakaian, makin banyak dikonsumsi makin memberikan manfaat
b. Utilitas (utility)
Utilitas adalah suatu manfaat yang diperoleh dari mengkonsumsi barang. Utilitas merupakan ukuran manfaat suatu barang dibanding dengan alternative penggunaanya. Utilitas digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh konsumen. Utilitas total adalah manfaat yang diperoleh dari seluruh barang yang dikonsumsi. Utilitas marjinal adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah konsumsi sebanyak satu unit barang.
c. Hukum pertambahan manfaat yang makin menurun (the law of dimishing marginal utility)
Pada awalnya penambahan konsumsi suatu barang akan memberikan manfaat yang besar ,tetapi makin lama pertambahan itu bukan saja makin menurun ,bahkan menjadi negative. Good sudah menjadi bad. Gejala itu disebut sebagai hukum pertambahan manfaat yang semakin menurun ( the law of dimishing marginal utility,untuk selanjutnya disingkat LDMU). Dalam analisis perilaku konsumen ,gejala L:DMU dilihat dari makin menurunya nilai utilitas marjinal. Karena dasar analisisnya,adalah perubahan utilitas marjinal,analisis ini dikenal sebagai analisis marjinal(marginal analysis).
Analisis marjinal mula-mula digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa berlian lebih mahal dibanding air? Herman heinrich gossen menjawab bahwa pertambahan manfaat air cepat sekali menurun. Jika seseorang sangat haus ,segelas pertama akan menberikan manfaat yang sangat besar,tetapi setelah gelas keempat dan kelima ,pertanbahan manfaat sudah mulai menurun. Tidak halnya dengan berlian.
d. Konsistensi preferensi (transitivity)
Konsep preferensi berkaitan dengan kemampuan konsumen menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan. Minimal ada dua sikap yang berkaitan dengan preferensi konsumen ,yaitu lebih suka (prefer) dan atau sama-sama disukai(indifference). Misalnya ada dua barang X dan Y ,maka konsumen mengatakan X lebih disukai daripada Y (X>Y) atau X sama-sama disukai seperti Y ( X = Y ). Tanpa sikap ini perilaku konsumen sulit dianalisis.
e. Pengetahuan sempurna
Konsumen diasumsikan memiliki informasi atau pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka tahu persis kualitas barang,kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dan harga barang di pasar. Mereka mampu memprediksi jumlah penerimaan untuk satu periode konsumsi.
2. Teori cardinal ( cardinal theory )
Bahwa kegunaan dapat dihitung secara nominal , sebagaimana kita menghitung berat dengan gram atau kilogram. Sedangkan satuan utility adalah util.Keputusan untuk mengkonsumsi suatu barang berdasarkan perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang harus dikeluarkan. Nilai kegunaan yang dikeluarkan ddisebut utilitas total (TU). Tambahan kegunaan dari penambahan satu unit barang yang dikonsumsi disebut utilitas marjinal (MU). Total uang yang dikeluarkan untuk konsumsi adalah jumlah unit barang dikalikan harga per unit. Untuk setiap penambahan konsumsi, tambahan biaya yang harus dikeluarkan sama dengan harga barang per unit.
3. Teori ordinal (ordinal theory)
a. Kurva indifferensi ( indifference curve )
Menurut teori ordinal, kegunaan tidak dapat dihitung ; hanya dapat dibandingkan , sebagaimana kita menilai kecentikan atau kepandaian seseorang. Kurva indifferensi adalah kurva yang menunjukan berbagai kombinasi kjonsumsi dua macam barang yang memberika kepuasan yang sama bagi seorang konsuimen
Asumsi-asumsi kurva indifferesi
1. Semakin jauh kurva indifferensi dari titik login ,semakin tinggi tingkat kepuasanya.
2. Kurva indifferensi menurun dari kiri atas ke kanan bawah dan cenbung ke titik origin.
3. Kurva indifferensi tidak saling berpotongan
b. Kurva garis anggaran (budget line curve)
Garis anggaran adalah kurva yang menunjukan kombinasi dua macam barang yang membutuhkan biaya yang sama besar.
c. Perubahan harga barang dan pendapatan
Perubahan harga barang dan pendapatan akan mempengaruhi daya beli masyarakat.
d. Keseimbangan konsumen
Kondisi keseimbangan adalah konddisi konsumen te\lah mengalokasikan seluruh pendapatanya untukk konsumsi. Uang yang ada dipakai un tuk mencapai titik kepuasan tertinggi (maksimalisasi kegunaan), atau tingkat kepuasaan tertentu dapat dicapai dengan anggaran paling minim (minimalisasi biaya).
e. Reaksi terhadap perubahan harga barang
Keseimbangan yang dicapai dapat berubah karena pendapatan nyata berubah. Jika pendapatan nyata meningkat, konsumen dapat menaikan nilai kepuasanya. Sebaliknya jika pendapatan nyata menurun, dengan terpaksa konsumen menurunkan tingkat kepuasanya, disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang menurun. Salah satu faktor yang dapat mengubah pendapatan nyata adalah perubahan harga barang.Perubahan salah satu barang menyebabkan rasio harga berubah. Akibatnya barang yang harganya naik atau turun relative lebih murah atau lebuh mahaldibanding barang lainya.perubahan ini menyebabkan pendapatan nyata berubah walaupun pendapatan nominal aaa9money income) tidak berubah. Pada saat harga barang X makin murah maka permintaan terhadap barang X meningkat( ceteris paribus). Hal ini sesuai hukum permintaan.
f. Reaksi terhadap perubahan pendapatan nominal
Suatu faktor lain yang dapat merubah keseimbangan konsumen adalah perubahan pendapatan nominal.
g. Efek subtitusi ( substitution effect ) dan efek pendapatan (income effect)
Jika suatu harga suatu barang berubah,maka ada dua komponen Yng dipengaruhi :
1. Harga relatif barang menjadi murah, sehingga bila konsumen bergerak pada kepuasaan yang sama dan pendapatan nyata dianggap tetap,maka konsumen akan menambah jumlah konsumsi barang yang harganya menjadi relatif lebih murah dan mengurangi jumlahg konsumsi barang yang harganya relatif lebih mahal. Inilah yang disebut sebagai efek suibtitusi ( substitution effect )
2. Pendapatan nyata berubah menyebabakan jumlah permintaan berubah. Jika perubahan ini dilihat dari sisi harga barang lain dan pendapatan nominal dianggap tetap, kita akan melihat efek pendapatan ( income affect ).
PENGGUNA HANDPHONE DI INDONESIA
Pada awalnya ponsel atau sering disebut handphone hanya digunakan untuk voice call, kemudian bertambah dengan layanan SMS (short message service),kemudian handphone pun semakin berevolusi seiring dengan adanya layanan dari operator seluler yang meliputi layanan 3G dan sekarang menuju ke-4G.
Perkembangan saat ini, masyarakat Indonesia mencari handphone yang memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan keluarga, kekasih, sahabat,game music, browsing internet, bahkan untuk mencari teman di dunia maya. Sehingga banyak konsumen yang mencari handphone sesuai kebutuhan mereka seperti ponsel game, music, bisnis, kamera, ataupun handphone dengan fasilitas internet. Selain itu banyak pula konsumen yang mencari handphone hanya untuk sekedar stylist atau boleh dibilang gaya-gayaan saja tanpa mengetahui manfaat dari handphone yang mereka beli. Ada pula yang membeli handphone karena ikut-ikutan. Apapun alasanya itu sah-sah saja karena itu hak mereka.
Menurut anda handphone seperti apakah yang anda cari? Handphone yang buat game,chatting ,music,social network,ataukah handphone yang sedang buming saat ini? Ya, blackberry. Disini saya akan mengulas sedikit tentang blackberry. Handphone yang sangat dikenal oleh semua kalangan masyarakat di Indonesia, dari pengguna handphone kalangan kelas bawah hingga pengguna kelas atas.
Di Indonesia sendiri perkembangan blackberry sangatlah cepat.Handphone yang diperkenalkan pada tahun 2004 silam ini mampu menyaingi brand yang lebih dikenal masyarakat lebih awal seperti Nokia, Sony Ericson,Samsung, Motorola dan brand pendahulu lainya.
Beberapa keunggulan blackberry sehingga mampu mengambil alih pasar adalah adanya layanan push e-mail yang memungkinkan pengguna bisa menerima e-mail masuk langsung ke handphone dan ,langsung merespon layaknya sms, kemudahan penggunaan keypad QWERTY untuk mengetik, dengan blackberry messenger,pengguna juga bisa menikmati layanan blackberry enterprise server (untuk perusahaan) dan blackberry internet service (untuk pribadi) yang memudahkan pengguna untuk berkomunikasi serta kelebihan lain yang ditawarkan blackberry. Keunggulan layanan dan fasilitas inilah yang sulit dikejar brand lain.
Brand lain pun tidak mau kalah dalam memenuhi perubahan selera konsumen ini. Sehingga merk ponsel saling berlomba menarik konsumen. Mulai dari disain Qwerty yang diadopsi dari blackberry ,aplikasi push e-mail, serta perang harga serta pemenuhan fasilitas yang dibutuhkan konsumen sesuai dengan kelas pengguna handphone. Dari kelas low end hingga high end. Adanya persaingan yang disebabkan oleh adanya perilaku konsumen ini membuat produsen berlomba dalam berinovasi untuk memenuhi keinginan konsumen.
Dengan mengetahui perilaku konsumen yang selalu berubah maka produsen handphone akan berusaha memenuhi permintaan pasar yang cenderung menginginkan teknologi yang memudahkan konsumen dalam menggunakan alat komunikasi dalam keseharianya. Dengan adanya perang harga dan juga pendapatan masyarakat akan mengubah perilaku konsumen untuk memiliki handphone lebih dari satu. Berarti konsumsi masyarakat akan meningkat setiap ada penurunan harga dan peningkatan pendapatan.
Daftar Pustaka
1. Rahardja prathama dan Manurung Mandala,Pengantar Ilmu Ekonomi (mikroekonomi dan makroekonomi).Jakarta:Lembaga penerbit FEUI, 2008.
Teori perilaku konsumen
1. Pengertian dan asumsi-asumsi utama
Tujuan yang ingin dicapai konsumen adalah kepuasan maksimum.
a. Barang (commodities)
Barang adalah benda dan jasa yang dikonsumsi untuk memperoleh manfaat atau kegunaan. Bila seseorang mengkonsumsi lebih dari satu barang dan jasa, seluruhnya digabungkan dalam satu bundle barang ( commodities bundle). Barang yang dikonsumsi mempunyai sifat makin banyak dikonsumsi makin besar manfaat yang diperoleh. Contohnya : pakaian, makin banyak dikonsumsi makin memberikan manfaat
b. Utilitas (utility)
Utilitas adalah suatu manfaat yang diperoleh dari mengkonsumsi barang. Utilitas merupakan ukuran manfaat suatu barang dibanding dengan alternative penggunaanya. Utilitas digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh konsumen. Utilitas total adalah manfaat yang diperoleh dari seluruh barang yang dikonsumsi. Utilitas marjinal adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah konsumsi sebanyak satu unit barang.
c. Hukum pertambahan manfaat yang makin menurun (the law of dimishing marginal utility)
Pada awalnya penambahan konsumsi suatu barang akan memberikan manfaat yang besar ,tetapi makin lama pertambahan itu bukan saja makin menurun ,bahkan menjadi negative. Good sudah menjadi bad. Gejala itu disebut sebagai hukum pertambahan manfaat yang semakin menurun ( the law of dimishing marginal utility,untuk selanjutnya disingkat LDMU). Dalam analisis perilaku konsumen ,gejala L:DMU dilihat dari makin menurunya nilai utilitas marjinal. Karena dasar analisisnya,adalah perubahan utilitas marjinal,analisis ini dikenal sebagai analisis marjinal(marginal analysis).
Analisis marjinal mula-mula digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa berlian lebih mahal dibanding air? Herman heinrich gossen menjawab bahwa pertambahan manfaat air cepat sekali menurun. Jika seseorang sangat haus ,segelas pertama akan menberikan manfaat yang sangat besar,tetapi setelah gelas keempat dan kelima ,pertanbahan manfaat sudah mulai menurun. Tidak halnya dengan berlian.
d. Konsistensi preferensi (transitivity)
Konsep preferensi berkaitan dengan kemampuan konsumen menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan. Minimal ada dua sikap yang berkaitan dengan preferensi konsumen ,yaitu lebih suka (prefer) dan atau sama-sama disukai(indifference). Misalnya ada dua barang X dan Y ,maka konsumen mengatakan X lebih disukai daripada Y (X>Y) atau X sama-sama disukai seperti Y ( X = Y ). Tanpa sikap ini perilaku konsumen sulit dianalisis.
e. Pengetahuan sempurna
Konsumen diasumsikan memiliki informasi atau pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka tahu persis kualitas barang,kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dan harga barang di pasar. Mereka mampu memprediksi jumlah penerimaan untuk satu periode konsumsi.
2. Teori cardinal ( cardinal theory )
Bahwa kegunaan dapat dihitung secara nominal , sebagaimana kita menghitung berat dengan gram atau kilogram. Sedangkan satuan utility adalah util.Keputusan untuk mengkonsumsi suatu barang berdasarkan perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang harus dikeluarkan. Nilai kegunaan yang dikeluarkan ddisebut utilitas total (TU). Tambahan kegunaan dari penambahan satu unit barang yang dikonsumsi disebut utilitas marjinal (MU). Total uang yang dikeluarkan untuk konsumsi adalah jumlah unit barang dikalikan harga per unit. Untuk setiap penambahan konsumsi, tambahan biaya yang harus dikeluarkan sama dengan harga barang per unit.
3. Teori ordinal (ordinal theory)
a. Kurva indifferensi ( indifference curve )
Menurut teori ordinal, kegunaan tidak dapat dihitung ; hanya dapat dibandingkan , sebagaimana kita menilai kecentikan atau kepandaian seseorang. Kurva indifferensi adalah kurva yang menunjukan berbagai kombinasi kjonsumsi dua macam barang yang memberika kepuasan yang sama bagi seorang konsuimen
Asumsi-asumsi kurva indifferesi
1. Semakin jauh kurva indifferensi dari titik login ,semakin tinggi tingkat kepuasanya.
2. Kurva indifferensi menurun dari kiri atas ke kanan bawah dan cenbung ke titik origin.
3. Kurva indifferensi tidak saling berpotongan
b. Kurva garis anggaran (budget line curve)
Garis anggaran adalah kurva yang menunjukan kombinasi dua macam barang yang membutuhkan biaya yang sama besar.
c. Perubahan harga barang dan pendapatan
Perubahan harga barang dan pendapatan akan mempengaruhi daya beli masyarakat.
d. Keseimbangan konsumen
Kondisi keseimbangan adalah konddisi konsumen te\lah mengalokasikan seluruh pendapatanya untukk konsumsi. Uang yang ada dipakai un tuk mencapai titik kepuasan tertinggi (maksimalisasi kegunaan), atau tingkat kepuasaan tertentu dapat dicapai dengan anggaran paling minim (minimalisasi biaya).
e. Reaksi terhadap perubahan harga barang
Keseimbangan yang dicapai dapat berubah karena pendapatan nyata berubah. Jika pendapatan nyata meningkat, konsumen dapat menaikan nilai kepuasanya. Sebaliknya jika pendapatan nyata menurun, dengan terpaksa konsumen menurunkan tingkat kepuasanya, disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang menurun. Salah satu faktor yang dapat mengubah pendapatan nyata adalah perubahan harga barang.Perubahan salah satu barang menyebabkan rasio harga berubah. Akibatnya barang yang harganya naik atau turun relative lebih murah atau lebuh mahaldibanding barang lainya.perubahan ini menyebabkan pendapatan nyata berubah walaupun pendapatan nominal aaa9money income) tidak berubah. Pada saat harga barang X makin murah maka permintaan terhadap barang X meningkat( ceteris paribus). Hal ini sesuai hukum permintaan.
f. Reaksi terhadap perubahan pendapatan nominal
Suatu faktor lain yang dapat merubah keseimbangan konsumen adalah perubahan pendapatan nominal.
g. Efek subtitusi ( substitution effect ) dan efek pendapatan (income effect)
Jika suatu harga suatu barang berubah,maka ada dua komponen Yng dipengaruhi :
1. Harga relatif barang menjadi murah, sehingga bila konsumen bergerak pada kepuasaan yang sama dan pendapatan nyata dianggap tetap,maka konsumen akan menambah jumlah konsumsi barang yang harganya menjadi relatif lebih murah dan mengurangi jumlahg konsumsi barang yang harganya relatif lebih mahal. Inilah yang disebut sebagai efek suibtitusi ( substitution effect )
2. Pendapatan nyata berubah menyebabakan jumlah permintaan berubah. Jika perubahan ini dilihat dari sisi harga barang lain dan pendapatan nominal dianggap tetap, kita akan melihat efek pendapatan ( income affect ).
PENGGUNA HANDPHONE DI INDONESIA
Pada awalnya ponsel atau sering disebut handphone hanya digunakan untuk voice call, kemudian bertambah dengan layanan SMS (short message service),kemudian handphone pun semakin berevolusi seiring dengan adanya layanan dari operator seluler yang meliputi layanan 3G dan sekarang menuju ke-4G.
Perkembangan saat ini, masyarakat Indonesia mencari handphone yang memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan keluarga, kekasih, sahabat,game music, browsing internet, bahkan untuk mencari teman di dunia maya. Sehingga banyak konsumen yang mencari handphone sesuai kebutuhan mereka seperti ponsel game, music, bisnis, kamera, ataupun handphone dengan fasilitas internet. Selain itu banyak pula konsumen yang mencari handphone hanya untuk sekedar stylist atau boleh dibilang gaya-gayaan saja tanpa mengetahui manfaat dari handphone yang mereka beli. Ada pula yang membeli handphone karena ikut-ikutan. Apapun alasanya itu sah-sah saja karena itu hak mereka.
Menurut anda handphone seperti apakah yang anda cari? Handphone yang buat game,chatting ,music,social network,ataukah handphone yang sedang buming saat ini? Ya, blackberry. Disini saya akan mengulas sedikit tentang blackberry. Handphone yang sangat dikenal oleh semua kalangan masyarakat di Indonesia, dari pengguna handphone kalangan kelas bawah hingga pengguna kelas atas.
Di Indonesia sendiri perkembangan blackberry sangatlah cepat.Handphone yang diperkenalkan pada tahun 2004 silam ini mampu menyaingi brand yang lebih dikenal masyarakat lebih awal seperti Nokia, Sony Ericson,Samsung, Motorola dan brand pendahulu lainya.
Beberapa keunggulan blackberry sehingga mampu mengambil alih pasar adalah adanya layanan push e-mail yang memungkinkan pengguna bisa menerima e-mail masuk langsung ke handphone dan ,langsung merespon layaknya sms, kemudahan penggunaan keypad QWERTY untuk mengetik, dengan blackberry messenger,pengguna juga bisa menikmati layanan blackberry enterprise server (untuk perusahaan) dan blackberry internet service (untuk pribadi) yang memudahkan pengguna untuk berkomunikasi serta kelebihan lain yang ditawarkan blackberry. Keunggulan layanan dan fasilitas inilah yang sulit dikejar brand lain.
Brand lain pun tidak mau kalah dalam memenuhi perubahan selera konsumen ini. Sehingga merk ponsel saling berlomba menarik konsumen. Mulai dari disain Qwerty yang diadopsi dari blackberry ,aplikasi push e-mail, serta perang harga serta pemenuhan fasilitas yang dibutuhkan konsumen sesuai dengan kelas pengguna handphone. Dari kelas low end hingga high end. Adanya persaingan yang disebabkan oleh adanya perilaku konsumen ini membuat produsen berlomba dalam berinovasi untuk memenuhi keinginan konsumen.
Dengan mengetahui perilaku konsumen yang selalu berubah maka produsen handphone akan berusaha memenuhi permintaan pasar yang cenderung menginginkan teknologi yang memudahkan konsumen dalam menggunakan alat komunikasi dalam keseharianya. Dengan adanya perang harga dan juga pendapatan masyarakat akan mengubah perilaku konsumen untuk memiliki handphone lebih dari satu. Berarti konsumsi masyarakat akan meningkat setiap ada penurunan harga dan peningkatan pendapatan.
Daftar Pustaka
1. Rahardja prathama dan Manurung Mandala,Pengantar Ilmu Ekonomi (mikroekonomi dan makroekonomi).Jakarta:Lembaga penerbit FEUI, 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)